
Tebuireng.online— Jelang wisuda angkatan terakhir siswanya, Pondok Pesantren Tebuireng mengadakan kegiatan Sowan dan doa bersama pengasuh yang diikuti oleh seluruh santri putra Pondok Pesantren. Kegiatan ini dilaksanakan pada Senin (3 September 2026) di aula lantai 3 gedung KHM Yusuf Hasyim, dimulai pukul 11.00 WIB, setelah para siswa selesai melakukan kegiatan mengajar di sekolahnya.
Peserta kegiatan adalah siswa tingkat akhir dari beberapa lembaga pendidikan di wilayah Tebuireng yaitu Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah, SMP A. Wahid Hasyim, SMK Khoiriyyah Hasyim dan Madrasah kelas 6 Mu’allimin Hasyim Asy’ari. Total ada 363 siswa yang mengikuti kegiatan ini.
Baca juga: Nyai Farida Salahuddin Wahid: Pengawas Tebuireng harus menjadi contoh kebersihan bagi siswa
Acara ini juga dihadiri oleh Guru Pondok Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Machfudz, didampingi Mudir H. Lukman Hakim, pimpinan kos Ustadz Slamet Habib, wakil ketua kos Ustadz Mahmudz, koordinator kos, serta dosen pembimbing mahasiswa kelas akhir.
Dalam sambutannya, Ustadz Slamet Habib menekankan pentingnya santri meneladani lima prinsip dasar Tebuireng, yaitu keikhlasan, kejujuran, tanggung jawab, kerja keras, dan tasamuh (toleransi). Menurutnya, nilai-nilai tersebut harus menjadi pedoman siswa ketika kembali ke masyarakat.

Sementara itu, H. Lukman Hakim berpesan kepada para santri yang akan meninggalkan pesantren agar memberikan kesan yang baik selama masa pesantren. Ia mengatakan, datang ke pesantren dengan niat baik hendaknya diakhiri dengan perpisahan yang baik.
Baca juga: Kiai Ahmad Roziqi mengungkapkan tiga ciri utama pelayanan Mahasantri Ma’had Aly Tebuirenga
“Jika santri meninggalkan pesantren dengan kesan yang baik, maka disebut Husnul Khatimah. “Ketika Allah menerima amal, maka ilmu yang dipelajari akan bermanfaat bagi agama, dunia, dan akhirat,” ujarnya.
Pada kesempatan ini KH. Sederet pesan juga disampaikan Abdul Hakim Machfudz atau lebih dikenal Gus Kikin kepada mahasiswa tingkat akhir tersebut. Dijelaskannya, pesantren kini tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga berbagai disiplin ilmu lain seperti matematika, sejarah, kimia, dan biologi.
Menurutnya, pengembangan ilmu pengetahuan bertujuan agar siswa dapat mengeksplorasi dan memanfaatkan sumber daya alam yang ada di dunia dengan sebaik-baiknya.
Gus Kikin juga berpesan kepada mahasiswa yang akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi agar tidak berhenti belajar. Dijelaskannya, ilmu dapat dibedakan menjadi dua, yaitu ilmu agama dan ilmu yang berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat.
Ia menambahkan, Tebuireng kini juga mengembangkan pendidikan berbasis sains melalui pendirian Sekolah Trenzains yang memadukan kajian ilmiah modern dengan nilai-nilai pesantren.
Gus Kikin dalam pesannya menegaskan bahwa semua ilmu pengetahuan pada dasarnya bersumber dari Al-Quran dan hadis. Oleh karena itu, ilmu apa pun yang dipelajari hendaknya mempunyai landasan dari dua sumber utama tersebut.
“Dengan cara ini kita mengikuti apa yang diajarkan Nabi salam sejahtera baginya,” katanya.
Baca juga: Lebih dari komisaris, Prof. Imam Suprayogo mendorong kader Tebuireng menjadi pemimpin yang berintegritas
Cicit Hadratussyaikh ini juga mengingatkan para santri untuk tetap berpegang pada prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah yang memiliki semboyan. Al-muhafadzatu ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlahyaitu mempertahankan tradisi lama yang baik dan mengadopsi hal-hal baru dan lebih baik.
Di akhir pesannya, Gus Kikin menegaskan, siswa yang belajar syariah hingga SMA tidak boleh berhenti sampai disitu saja. Siswa diharapkan terus mengembangkan ilmunya pada tingkat yang lebih tinggi.
Gus Kikin mencontohkan KH Ma’ruf Amin, mahasiswa Tebuireng yang pernah menjadi Wakil Presiden RI. Menurutnya, KH. Ma’ruf Amin telah menunjukkan bahwa peserta didik yang memiliki landasan ilmu agama yang kuat dapat berkembang dan berkontribusi besar bagi masyarakat dan bangsa.
Reporter: Nurdiansyah Fikri
Editor: Rara Zarary
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.