Pengarang:
Abdul Aziz Abu Yusuf
Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang menurunkan Al-Qur’an. Shalawat dan salam semoga senantiasa melimpah untuk insan terbaik, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, serta keluarga dan sahabat sekalian.
Amma ba’du:
Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikan bulan Ramadhan istimewa di antara bulan-bulan lainnya dengan memilihnya sebagai waktu turunnya Al-Qur’an Al-Azhim, dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Disebutkan dalam As-Sunnah bahwa bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya kitab suci kepada para rasul Alayhimuselam. Rasulullah sallallahu alayhi wa sallam bersabda:
Insya Allah, Insya Allah, Insya Allah, Insya Allah, Insya Allah
“Suhuf Ibrahim alaihissalam diturunkan pada malam pertama bulan Ramadhan. Taurat diturunkan setelah enam hari Ramadhan berlalu. Injil diturunkan setelah tiga belas hari Ramadhan berlalu. Al-Qur’an diturunkan setelah dua puluh empat hari Ramadhan berlalu.” (HR.Ahmad).
Membaca Al-Qur’an Al-Azhim dianjurkan setiap saat, karena merupakan bisnis yang menguntungkan, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
Tuhan memberkati Anda jika Tuhan menghendaki وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَاَةً لَنْ تَبُورَ
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah, menunaikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mengharap suatu perdagangan yang tidak akan pernah rugi.” (QS. Fatir).
Bagaimana tidak, padahal setiap huruf yang dibaca dibalas dengan satu amalan, dan satu amalan dilipatgandakan sepuluh kali lipat, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ حَسَنَةٌْنَْةٌ أَلِفٌ حَرْفٌ, وَلَامٌ حَرْفٌ, وَمِيمٌ حَرْفٌ
“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka dia mendapat satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dilipatgandakan sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan bahwa alif lām mīm itu satu huruf, tetapi alif itu satu huruf, lām satu huruf, dan mīm satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi).
Hanya saja perbanyak membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan menjadi pedoman Rasulullah SAW, dan generasi awal para Salaf shaleh bangsa ini, karena itulah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Berdasarkan riwayat Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:
Tuhan memberkatimu Tuhan memberkatimu Tuhan memberkatimu Tuhan memberkatimu فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ, فَلَرَسُولُ اللَّهِ atau Insya Allah, Insya Allah, Insya Allah الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ
“Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan ketika Jibril bertemu dengannya dan mengajarinya (mudaras) Al-Qur’an. Jibril menemuinya setiap malam di bulan Ramadhan lalu mengajarinya Al-Qur’an. (HR. Al-Bukhari).
Ibnu Rajab Rahimahullah dan ulama lainnya telah menyebutkan beberapa cerita tentang bagaimana Salaf mengikuti Kitab Allah di bulan Ramadhan. Ibnu Rajab berkata: “Dahulu, sebagian salaf biasa membacakan Al-Qur’an pada saat shalat tarawih tiga hari sekali. Ada yang membacanya seminggu sekali, di antaranya Qatad.
Imam Asy-Syafi’i membacakan Al-Qur’an sebanyak enam puluh kali di bulan Ramadhan, ia membacanya di luar shalat. Sementara itu, Imam Malik ketika memasuki bulan Ramadhan singgah pada kumpul riwayat hadis dan berdiskusi dengan para ulama, lalu fokus membaca Al-Qur’an dari mushaf. “Dahulu, ketika Sufyan At-Tsauri memasuki bulan Ramadhan, ia menghentikan segala ibadah (Sunnah) dan beralih membaca Al-Qur’an.” (Buku Lathaif al-Ma’arif P. 318).
Imam An-Nawawi Rahimahullah juga menyebutkan bagaimana kaum Salaf biasa membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Beliau bersabda: “Sepantasnya seorang hamba harus selalu membaca Al-Qur’an dan banyak membacanya. Dahulu, para salaf radiyallahu anhum mempunyai kebiasaan yang berbeda-beda dalam menentukan jangka waktu bacaannya.
Ada juga yang bernyanyi delapan kali sehari, empat kali siang hari, dan empat kali malam hari. Di antara mereka yang membacakan Al-Qur’an satu kali sehari adalah Utsman bin Affan dan Tamim Ad-Dari Radhiyallahu ‘anhuma, Said bin Jubair, Mujahid, Asy-Syafi’i dan masih banyak lagi yang lainnya. Kemudian di antara mereka yang mengucapkan tiga kali sehari adalah Salim bin Umar, Radiyallahu ‘anhu.” (Kitab At-Tibyan Fi Adab Hamalah Al-Qur’an 59-63).
Tidak masalah mengaji Al-Qur’an kurang dari tiga hari di bulan Ramadhan, karena tidak termasuk dalam larangan yang ada, seperti yang dikatakan oleh Ibnu Rajab Rahimahullah: “Sesungguhnya larangan membaca Al-Qur’an kurang dari tiga hari adalah jika dilakukan secara terus-menerus, namun jika hanya pada waktu-waktu utama Ramadhan seperti di bulan Ramadhan maka dianjurkan di bulan Makkah. (Buku Lathaif Al-Ma’arif”hal.319).
Itulah sedikit contoh keikhlasan dan semangat para pendahulu kita dalam membaca Al-Qur’an pada umumnya atau di bulan Ramadhan pada khususnya. Tujuan penyebutan ini adalah untuk mengobarkan semangat dalam meneladani mereka. Dan kamu yang puas hanya dengan satu atau lebih topi di bulan Ramadhan, lawanlah hawa nafsumu! Ikutilah kafilah orang-orang yang begitu semangat membaca Kitab Tuhannya! Semoga setiap Ramadhan yang kamu dapatkan selalu memperbanyak amalan dan tafsir dari Ramadhan sebelumnya, karena kamu tidak tahu apakah kamu akan mendapatkan Ramadhan berikutnya atau tidak.
Ya Allah, berilah kami rezeki untuk membaca Kitab Mulia-Mu siang dan malam dalam bentuk yang diridhai-Mu wahai Dzat Yang Maha Penyayang.
Sumber:
Artikel sumber PDF
🔍 Masuk Islam, Pasik Is, Kurban untuk Orang Tua Meninggal, Istri Nabi Musa, Qasidah Sholawat Nabi
Dikunjungi 77 kali, 8 kunjungan hari ini
Tampilan Postingan: 11


PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.