Pengarang:
Abdul Qadir Daghuti
Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji hamba-Nya dengan berbagai bentuk musibah yang Dia kehendaki, berbagai macam kesulitan dan ujian. Hanya saja ini bukanlah tujuan awal syariat ini yang sarat hikmah, melainkan merupakan tujuan turunan, atau tujuan yang hanya sekedar sarana dan bukan tujuan utama. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Agung menjadikannya sarana untuk mencapai tujuan syariat, dan hakikatnya adalah mencapai kebaikan bagi orang-orang yang beriman, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ
“Kamu mungkin membenci sesuatu padahal itu baik untukmu.” (QS. Al-Baqarah : 216).
فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهً فِيهِ كَثِيرًا
“Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah telah berbuat banyak kebaikan darinya.” (QS. An-Nisa : 19).
Berikut ini beberapa tujuan mengalahkan musibah yang disebutkan langsung dalam Kitab Allah dan Sunnah Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam:
- Menjadi pengingat bagi orang-orang yang lengah
Boleh jadi ada seorang hamba yang lalai terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, melalaikan kewajibannya, asyik dengan kesenangan dunia dan tenggelam dalam nafsunya, namun ketika musibah menimpanya, ia segera tersadar dari kelalaiannya, merasakan kelemahan dan ketidakberdayaannya, dan kembali kepada Allah (swt). Pintunya berharap rahmat-Nya. Dalam hal ini Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Dan
“Kami menguji mereka dengan kebaikan dan keburukan agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (QS. Al-A’raf : 168).
Yakni Kami menggoda mereka dengan kesenangan dan kemalangan, kesulitan dan kemudahan, untuk menghentikan kekufuran dan kemaksiatan. (Shafwah At-Tafasir oleh Muhammad Ali Ash-Sabuni” vol. 1, hal. 443).
Tujuan ujian tersebut salah satunya adalah untuk menyelamatkan hamba-hamba dari tawanan setan, melepaskannya dari belenggu syahwat dan syahwat, menyadarkan mereka dari tidur kelalaian, agar kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mendekatkan diri kepada-Nya dan berusaha memperbaiki silaturahmi dengan-Nya, sehingga keadaannya semakin membaik. Ibnu Athaillah As-Sakandari berkata: “Barangsiapa tidak mendekati Allah dengan kebaikan yang ringan, maka dia akan ditarik kepada-Nya dengan belenggu godaan.” (Hikam Ibnu Athaillah as-Sakandari P. 62).
- Pembersih orang-orang beriman
Diantara wujud rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya yang beriman adalah ketika Dia ingin membersihkan mereka dari akibat dosa-dosa mereka, Dia akan menimpa mereka dengan musibah kecil, sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi Sallallahu alaihi wasallam:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ, وَلَا هَمََمٍ حُزْنٍ, وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ, حَتَّى الشَّوْكَةُ Tuhan memberkatimu
“Dan tidak pula seorang muslim ditimpa kelelahan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, kemarahan atau kesusahan, atau bahkan duri yang menusuknya, melainkan dengan demikian Allah akan menghapus sebagian dosanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dia juga berkata:
مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفهْس وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ, حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ Tuhan memberkatimu
“Bencana itu akan terus menimpa orang mukmin dan orang mukmin itu pada dirinya, anak-anaknya dan harta bendanya, hingga ia bertemu Allah dalam keadaan tanpa dosa.” (HR. At-Tirmizi No.2399).
Diriwayatkan oleh seorang Salaf, beliau berkata: “Kalau bukan karena musibah dunia, niscaya kita akan bangkrut di hari kiamat.”
- Saring mereka yang sabar
Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji hamba-hamba-Nya untuk meningkatkan keimanannya, memantapkan kedudukannya dan mengetahui dari mereka siapakah orang-orang yang bersabar ketika bencana menimpanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Dan
“Dan sesungguhnya Kami akan menguji kamu, agar kami mengetahui siapa di antara kamu yang berjihad dan bersabar, dan Kami akan menguji (mencari tahu) keadaanmu.” (QS. Muhammad : 31).
Al-Hasan Al-Basri Rahimahullah berkata: “Manusia berada dalam keadaan penuh kenikmatan, kemudian ketika bencana menimpanya, terungkaplah sifat aslinya.” (Syaid Al-Khathir Imam Ibnu Al-Jauzi hal. 139).
Orang-orang yang bersabar ketika bencana menimpanya, akan dilimpahkan nikmat Ilahi yang banyak dan karunia yang melimpah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, antara lain:
Cinta Allah kepada mereka dan mereka selalu diikuti terutama oleh Allah
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا Jika Tuhan
“Itulah sebabnya mereka tidak menjadi lemah terhadap apa yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak menjadi lemah dan tidak menyerah; dan Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran : 146). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ امَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وّلْرِ وَالَصَال إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Carilah pertolongan dengan bersabar dan berdoa, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah : 153).
وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar.” (QS. Al-Anfal : 46).
Pangkat mereka meningkat
Dalam hadits riwayat Abu Huraira Radiyallahu anhu disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
Insya Allah, Insya Allah, Insya Allah, Insya Allah. فَمَا يَبْلُغُهَا بِعَمَلٍ, فَلَا يَزَالُ اللَّهُ يَبْتَلِيهه
“Sesungguhnya manusia mempunyai kedudukan di sisi Allah yang tidak dapat diraihnya dengan amalnya, maka Allah terus menggodanya dengan sesuatu yang tidak disukainya, hingga Dia membawanya ke kedudukan itu.” (Dikuasakan oleh Al-Albani di As-Silsilah asy-Sahihah TIDAK. 2599).
Orang-orang yang paling dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mempunyai derajat yang paling tinggi adalah para rasul dan rasul, karena merekalah orang-orang yang paling berat cobaannya, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda.
Mencapai kesuksesan
Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Imam Asy-Syafi’i: “Wahai Abu Abdillah! Manakah yang lebih baik bagi seorang laki-laki, diberi kemuliaan atau diuji?” Imam Asy-Syafi’i kemudian menjawab: “Seseorang tidak akan diberi kemuliaan hingga ia diuji terlebih dahulu. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan ujian kepada Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad alaihimussalam, dan ketika mereka bersabar, Allah Subhanahu wa Ta’ala maka tidak ada seorang pun yang akan memuliakan mereka sepenuhnya karena Dia memberi mereka kesakitan.” (Al-Fawaid oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah hal. 222).
Menerima pengampunan dosa, penggandaan pahala dan kabar gembira yang membahagiakan
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Saya suka الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَْ مُصِيبَةٌ قَالهنَ إِذَا أَصَابْ مُصِيبَةٌ قَالهنوا Tuhan إّلَِل memberkatimu وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
“Dan sesungguhnya kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta benda, nyawa dan buah-buahan. Dan kami akan menyampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar, yaitu kepada orang-orang yang ketika musibah menimpa mereka, berkata: ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.’ Mereka mendapat nikmat dan rahmat yang sempurna dari Tuhannya, dan merekalah yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah : 155-157). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
Untuk
“Kecuali orang-orang yang sabar dan beramal shaleh, maka mereka akan mendapat ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Hud : 11). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
Tuhan memberkati
“Mereka diberi imbalan dua kali lipat atas kesabaran mereka.” (QS. Al-Qasas : 54). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
Insya Allah
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang akan diberi pahala tanpa batas.” (QS. Az-Zumar : 10). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
إِنِّي جَزَيْتُهُم0 الْفَائِزُونَ
“Sesungguhnya pada hari ini Aku telah memberi pahala kepada mereka atas kesabaran mereka, sesungguhnya merekalah orang-orang yang berjaya.” (QS. Al-Mu’minun : 111).
Penutupan
Ada beberapa hal yang dapat meringankan beban godaan seorang mukmin dan menguatkan ketabahannya disertai kesabaran, ketabahan, rasa puas diri dan rasa percaya diri agar tidak mudah marah, mengeluh dan putus asa, dengan mengetahui fakta-fakta penting berikut ini, yaitu:
- Musibah yang menimpa hamba Allah tidak akan berlangsung selamanya, ketika musibah itu turun, sudah ditentukan waktunya, lalu bangkit kembali dan berakhir. Ibnu Al-Jauzi Rahimahullah berkata: “Kemalangan itu ada akhirnya yang masa kemalangannya diketahui dengan pasti oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka orang yang diberi kemalangan harus bersabar sampai masa kemalangan itu selesai.” (Syaid Al-Khathir P. 155).
- Barangsiapa yang memeriksa seorang hamba, maka dialah Tuhannya, Yang Maha Penyayang, Maha Penyayang, dan Maha Penyayang. Dalam kesusahan yang dikirimkan kepada hamba-hamba-Nya, Dia memberi mereka banyak kebaikan yang tidak dapat dihitung oleh siapa pun kecuali Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ
“Kamu mungkin membenci sesuatu padahal itu baik untukmu.” (QS. Al-Baqarah : 216).
فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهً فِيهِ كَثِيرًا
“Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah telah berbuat banyak kebaikan darinya.” (QS. An-Nisa : 19).
Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata: “Barangsiapa yang mempunyai ilmu yang hakiki tentang Tuhannya dan memahami arti Nama-Nama dan Sifat-sifat-Nya, niscaya akan mengetahui dengan penuh keyakinan bahwa apa saja yang dia benci yang menimpanya dan musibah yang menimpanya mengandung banyak bentuk manfaat dan manfaat yang tidak mungkin dia sebutkan satu per satu.
Faktanya, kemaslahatan seorang hamba pada hal-hal yang dibencinya lebih besar daripada kemaslahatan pada hal-hal yang ia sukai. Jika seorang hamba mampu memahami hakikat ini, niscaya ia akan hidup tenteram di dunia sebelum masuk surga di akhirat. Kepuasan kedamaian di dunia tidak ada bandingannya kecuali keberkahan surga di akhirat, ia akan selalu merasa puas dengan Tuhannya, sedangkan kepuasan adalah surga di bumi dan tempat kedamaian bagi orang-orang yang berakal.
Kepuasan adalah kepuasaan jiwa terhadap takdir yang berkaitan dengannya, hakikat pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadapnya, dan ketenangan jiwa dengan hukum-hukum agama-Nya. Inilah yang dimaksud dengan berpuas diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Nabi.” (Al-Fawaid, hal. 91).
Ibnu Athaillah Es-Sakandari Rahimahullah berkata: “Untuk meringankan musibahmu, kamu harus mengetahui bahwa Dialah yang mengujimu dan mengendalikan nasibmu. Dialah pula yang mengenalkanmu pada pilihan-pilihan terbaik.” (Hikam Ibnu Athaillah as-Sakandari P. 90).
Sumber:
Artikel sumber PDF
🔍 Diganggu jin saat tidur, arti mimpi saat sholat, bacaan awal tahiyat menurut sunnah, ilmu karoma, dikacaukan jin
Dikunjungi 45 kali, 8 kunjungan hari ini
Tampilan Postingan: 17


PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.