
Menurut penulis, ada sikap yang agak provokatif bahwa dalam lingkungan keluarga lebih canggung membicarakan uang daripada seks. Entah itu dalam bentuk pendidikan keluarga atau sekadar obrolan ringan di meja makan, cara mengendalikan uang hampir tidak dapat diganggu gugat. Hal ini diperkuat oleh survei deVere Group terhadap 700 responden yang menunjukkan bahwa 56% masyarakat menganggap keuangan sebagai topik yang paling sulit untuk dibicarakan, bahkan melebihi isu-isu sensitif lainnya seperti seks, politik, agama, dan kesehatan.
Mungkin justru dari sinilah akar kemiskinan banyak masyarakat Indonesia berasal. Penduduk Indonesia yang mayoritas merupakan masyarakat ekonomi kelas menengah ke bawah tentu menjadi biang keladi dari tradisi-tradisi tersebut di atas. Berbeda dengan mereka yang berlatar belakang ekonomi di atas, pendidikan keuangan merupakan ilmu utama yang diturunkan kepada putra-putrinya.
Sekali lagi, ini bukan pendapat pribadi penulis, ini yang diungkapkan Adam Ndou dalam makalahnya yang bertajuk “Sosialisasi keuangan orang tua dan status sosial ekonomi.” Dalam makalah ini, dosen senior Universitas Afrika Selatan disimpulkan bahwa orang tua dengan pendapatan/pendidikan lebih tinggi mengajarkan instruksi keuangan dan penggunaan alat yang lebih eksplisit (akun, investasi, usaha kecil) dibandingkan orang tua dengan pendapatan lebih rendah.
Ujung-ujungnya yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Slogan sosialis yang masih terpelihara dengan baik hingga saat ini. Sebetulnya slogan ini bermula dari revolusi industri (1818-1883) yang disebut Marx Tesis imitasi (teori kemiskinan). Penulis tidak berbicara tentang perilaku masyarakat, namun dalam artikel ini ia mencoba membaca sistem keuangan modern.
Perbedaan konsep kapitalisme dan Islam
Sebagai seseorang yang tidak mempelajari ilmu ekonomi, penulis menggunakan kecerdasan buatan untuk memahami sistem keuangan global saat ini. Berdasarkan hasil pembahasan tersebut, penulis menyimpulkan bahwa tatanan perekonomian dunia saat ini berakar kuat pada prinsip kapitalisme. Hal ini mendorong penulis untuk melakukan studi perbandingan antara sistem kapitalis dan paradigma keuangan dalam perspektif Islam. Hasilnya adalah sebagai berikut:

Pertama, konsep kepemilikan properti. Jika kapitalisme direduksi hingga ke dasar-dasarnya, hanya ada satu kata kunci, yaitu individualisme. Dalam perspektif kapitalisme, harta benda merupakan harta mutlak yang merupakan hasil kerja keras pribadi. Karena merupakan properti absolut, tujuannya unik, yaitu akumulasi. Hal inilah yang menjadi indikator dan mewarnai definisi kesuksesan saat ini. Sederhananya, semakin banyak uang yang Anda miliki, semakin sukses Anda.
Sebaliknya dalam Islam cara berpikir mengenai uang cukup radikal di telinga modern. Rakyat bukanlah pemilik, rakyat hanyalah pengelola (pengurus/khalifah). Al-Qur’an menyatakan hal ini dengan sangat tegas dalam surat Al-An’am: 12.
قُلْ لِّمَنْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ قُلْ لِّلّٰه …
artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad): “Kepunyaan siapakah segala yang ada di langit dan di bumi?” Katakanlah: “Semua itu kepunyaan Allah”…
Dampak dari perbedaan status ini sangat luas. Jika seseorang merasa sebagai pemilik mutlak, tentu akan menggunakannya dengan bebas. Cara mendapatkan, bagaimana dan untuk apa, keputusan pemilik, termasuk menimbun sebanyak-banyaknya, terserah padanya. Namun, jika Anda merasa hanya sekedar mengelola sebuah perwalian, tentu pertanyaannya akan selalu, “Apakah pemilik aslinya (Tuhan) setuju dengan cara saya membelanjakan uang ini?”
Status pengelolaan Hal ini menjadikan uang sebagai titipan yang harus dipertanggungjawabkan. Kekayaan bukan sekedar obyek untuk hidup, melainkan sebuah cobaan atau kesalahan fitnah. Seringkali kita melihat bagaimana uang bisa mendatangkan kebaikan yang luar biasa bagi seseorang, namun sekaligus bisa menyeretnya ke dalam jurang kehancuran moral jika ia terjebak dalam cinta yang berlebihan. Islam memandang kekayaan sebagai pilar yang menopang kehidupan semua orang, sehingga tidak dibenarkan bagi individu untuk menghancurkan, menghambur-hamburkan atau memonopoli aset tersebut hanya untuk kepentingan egoisnya sendiri.
KeduaPerbedaan mendasar berikutnya terletak pada cara kedua sistem tersebut mendefinisikan permasalahan ekonomi. Dalam ekonomi konvensional atau kapitalisme, masalah utama manusia adalah kelangkaan (kelangkaan). Teori ini sangat dipengaruhi oleh definisi Lionel Robbins tahun 1932 yang menyatakan bahwa ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia sebagai hubungan antara keinginan yang tidak terbatas dan sumber daya alam yang terbatas. Pandangan ini menciptakan narasi bahwa dunia pada dasarnya mempunyai kelemahan, sehingga masyarakat harus terus bersaing untuk mendapatkan bagiannya.
Ekonomi Islam, sebaliknya, tidak mengenal konsep kelangkaan. Keyakinan dasarnya adalah bahwa Tuhan menciptakan segala sesuatu di alam semesta dalam ukuran yang tepat dan cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh makhluknya. Permasalahan perekonomian dalam perspektif Islam bukan terletak pada kekurangan sumber daya alam, melainkan pada perilaku manusia itu sendiri, yakni ketidakadilan distribusi, keserakahan, dan kezaliman. Tokoh ekonomi Islam seperti Muhammad Baqir al-Sadr dalam bukunya Iqtisaduna menyatakan bahwa Tuhan telah menyediakan sumber daya yang berlimpah, dan kelangkaan yang kita alami hanyalah akibat dari sistem yang memungkinkan terjadinya eksploitasi pihak yang kuat terhadap yang lemah.
Pandangan kapitalis menyamakan kebutuhan (kebutuhan) dengan keinginan (ingin) dianggap sebagai cacat fatal dalam Islam. Keinginan manusia memang tidak terbatas, namun kebutuhan dasar manusia sebenarnya mempunyai titik jenuh. Misalnya, rasa haus akan berhenti ketika ia minum cukup air. Permasalahan muncul ketika perekonomian modern didorong oleh mesin periklanan yang terus menerus mengubah kemewahan menjadi kebutuhan baru, sehingga menciptakan siklus ketidakpuasan yang tiada henti. Dalam Islam, yang harus dikendalikan adalah nafsu manusia, bukan eksploitasi alam yang dilakukan tanpa henti.
Ketigatangan yang tak terlihat melawan keadilan sosial. Adam Smith, yang sering disebut sebagai bapak kapitalisme, mempopulerkan teori ini Tangan yang tak terlihat— keyakinan bahwa jika setiap orang diperbolehkan mengejar kepentingan pribadinya di pasar bebas, maka kesejahteraan sosial dengan sendirinya akan tercapai. Ide ini mengasumsikan bahwa pasar mempunyai mekanisme koreksi diri yang sempurna. Namun kenyataannya, “tangan tak terlihat” ini seringkali gagal mencegah semakin lebarnya kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Kapitalisme memperbolehkan individu memperoleh kekayaan sebanyak-banyaknya tanpa intervensi, asalkan berjalan dalam koridor hukum positif yang seringkali mengabaikan aspek moralitas dan empati.
Dalam ekonomi Islam, konsep kesejahteraan tidak bisa dibiarkan begitu saja pada mekanisme pasar. “Tangan” yang dimaksud harus berwujud berupa kebijakan sosial dan lembaga peradilan seperti zakat, sedekah, dan wakaf. Tujuan utama ekonomi Islam adalah mencapai Terima kasih—sebuah konsep kesejahteraan yang mencakup dimensi dunia dan akhirat secara seimbang. Kesejahteraan sejati tidak mungkin tercapai tanpa adanya keadilan distributif. Sebagaimana dikemukakan oleh para ekonom Muslim, keadilan dalam Islam tidak hanya berarti formal-legal, tetapi juga esensial; dimana setiap individu mempunyai hak akses yang sesuai terhadap sumber daya.
Disitulah letak perbedaannya cara berpikir sangat kontras: di bawah kapitalisme, membantu orang lain merupakan pilihan filantropis setelah kebutuhan pribadi terpenuhi; Dalam Islam, menolong sesama melalui zakat merupakan kewajiban yang sistemik dan terikat pada hak kepemilikan itu sendiri. Zakat merupakan mekanisme transfer kekayaan yang dirancang untuk memurnikan kekayaan dan memastikan bahwa sirkulasi ekonomi tidak hanya berputar di kalangan elit saja.
keempat, psikologi kebahagiaan. Keberhasilan suatu sistem perekonomian juga harus diukur dari tingkat kesejahteraan mental masyarakat yang tinggal di dalamnya. Kapitalisme modern, dengan dorongan konsumennya yang kuat, sering kali menjebak masyarakat dalam apa yang disebut “treadmill hedonis.” Ini adalah fenomena psikologis di mana seseorang terus-menerus mencari barang-barang material baru dengan harapan menemukan kebahagiaan, namun kebahagiaan itu dengan cepat memudar setelah barang tersebut dimiliki, sehingga memaksa mereka untuk mencari “dosis” konsumsi berikutnya.
Data penelitian terbaru menunjukkan dampak mengkhawatirkan dari gaya hidup materialistis ini. Studi yang diterbitkan pada tahun 2024 dan 2025 menemukan bahwa individu dengan nilai materialistis yang tinggi—yaitu, mereka yang menganggap kepemilikan harta benda sebagai hal penting dalam identitas dan kebahagiaan mereka—memiliki tingkat kepuasan hidup yang lebih rendah, serta risiko kecemasan dan depresi yang lebih tinggi. Materialisme mendorong manusia untuk selalu membandingkan dirinya dengan orang lain, sehingga menimbulkan perasaan iri dan tidak puas yang kronis.
Islam menawarkan penawarnya melalui konsep qana’ah (Saya merasa cukup) i zhud (tidak terikat dengan dunia). Qana’ah Bukan berarti pasif atau malas, namun sikap cerdas dalam mengelola ekspektasi dan mensyukuri apa yang ada sambil melakukan upaya yang wajar. Sikap ini membebaskan jiwa dari tekanan sosial untuk selalu “mengikuti tren” yang kerap menguras kantong dan ketenangan batin.
Penelitian di Zhengzhou, Tiongkok pada tahun 2025 bahkan menemukan bahwa materialisme orang tua dapat menjadi stressor keluarga yang diturunkan kepada anak, menurunkan kualitas hubungan keluarga dan menimbulkan gangguan psikologis pada generasi berikutnya karena anak dipandang sebagai “pelengkap sosial” jika dibandingkan dengan anak lain. Ini adalah bukti nyata bahwa cara berpikir Perekonomian yang salah dapat menghancurkan bahkan unit terkecil dalam masyarakat.
Penutupan
Pada bagian akhir ini penulis ingin mengutip ungkapan bijak dari seorang pengusaha, penulis dan motivator Amerika bernama Jim Rohn, beliau mengatakan sebagai berikut: “Jika Anda mengambil semua uang di dunia dan membagikannya kepada semua orang, uang itu akan segera kembali ke kantong yang sama.” Jika seluruh uang yang ada di bumi dikumpulkan dan dibagikan secara merata kepada seluruh manusia di muka bumi, maka uang tersebut akan kembali masuk ke kantong yang sama. Kutipan Ini hanya menunjukkan bahwa masalah utamanya cara berpikirkebiasaan dan kemampuan individu untuk mengelolanya. Tanpa perubahan dan kesadaran, impian kesejahteraan hanya akan menjadi jeda sesaat sebelum ketimpangan serupa terjadi.
Jika kita beralih ke kajian Islam, menurut penulis, kesimpulan artikel ini adalah Islam tidak mengakui adanya kesenjangan sosial tersebut. Islam sepenuhnya mengakui ketimpangan ini. Keberadaan si miskin dan si kaya adalah kekuasaan surga dan dalam Al-Qur’an ketimpangan ini harus diatur. Aturan-aturan ini adalah keadilan. Keadilan di sini bukanlah upaya untuk menghapus perbedaan, namun memastikan bahwa perbedaan tersebut tidak berujung pada penindasan dan marginalisasi terhadap kelompok lemah. Oleh karena itu, instrumen syariah harus hadir dalam sistem perekonomian, sebagai mekanisme menjaga keseimbangan sosial di tengah realitas ketimpangan.
Baca juga: Mempertanyakan Posisi Perempuan dalam Ekonomi Islam
Penulis : Al Fahrizal
Editor: Sutan
News
Berita Teknologi
Berita Olahraga
Sports news
sports
Motivation
football prediction
technology
Berita Technologi
Berita Terkini
Tempat Wisata
News Flash
Football
Gaming
Game News
Gamers
Jasa Artikel
Jasa Backlink
Agen234
Agen234
Agen234
Resep
Download Film
Gaming center adalah sebuah tempat atau fasilitas yang menyediakan berbagai perangkat dan layanan untuk bermain video game, baik di PC, konsol, maupun mesin arcade. Gaming center ini bisa dikunjungi oleh siapa saja yang ingin bermain game secara individu atau bersama teman-teman. Beberapa gaming center juga sering digunakan sebagai lokasi turnamen game atau esports.
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.