Pengarang:
dr. Muhammad Jum’ah al-Halbusi
Inilah Abbas bin Abdul Muttalib Radhiyallahu ‘anhu, beliau meriwayatkan: Aku pernah berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam: “Ya Rasulullah, ajari aku sesuatu untuk diminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Dia menjawab: “Mintalah afiyat kepada Allah!” Beberapa hari kemudian aku kembali dan berkata, “Ya Rasulullah, ajari aku sesuatu agar aku bisa memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Lalu dia berkata kepadaku: “Wahai Abbas! Ya Rasulullah! Mintalah kedamaian kepada Allah di dunia dan akhirat!” (HR. At-Tirmidzi No. 3514. Beliau mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Wahai Muslim yang mulia! Tidak dapat dipungkiri bahwa nikmat afiyat merupakan salah satu nikmat terbesar Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dahulu Nabi kita Salallahu Alayhi Wassalam selalu meminta afiyat kepada Tuhannya, dan mewariskan kepada para sahabatnya yang mulia untuk meminta afiyat. Sallallahu alaihi wa sallam berkata:
Insya Allah, Insya Allah, Insya Allah, Insya Allah لَمْ يُعْطَ بَعْدَ اليَقِينِ خَيْرًا مِنَ العَافِيَ
“Mohon ampun dan afiyat kepada Allah, karena tidak ada seorangpun yang diberikan sesuatu yang lebih baik – setelah beriman (iman) – selain afiyat.” (HR. At-Tirmidzi No. 3558. Katanya hadits ini hasen gharib).
Bagaimana menurut Anda, apakah pria bisa merasa bahagia tanpa affiat? Bisakah dia menikmati kekayaan tanpa affiat? Apakah mereka akan merasa puas dengan kedudukannya dan kedudukannya tanpa affiat?
Demi Allah! Tidak ada yang bisa menandingi berkah dari affiat. Afijat adalah pakaian termewah yang dikenakan seorang laki-laki, makanan terlezat yang ia nikmati, dan tidur ternyaman yang ia alami.
Al-Mubarekfuri Rahimahullah berkata tentang arti afiyat: “Itulah pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Shallallahu Alaihi Wassalam berkata kepadanya: ‘Mintalah afiyat kepada Allah di dunia dan akhirat!’ Seolah-olah doa dengan pengantar seperti ini merupakan bekal untuk menghindari segala keburukan dan menyerukan segala kebaikan.” (Buku Tuhfah Al-Ahwadzi Karya Al-Mubarakfuri jilid 9 hal. 348).
Dan inilah yang dikatakan oleh Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu: Suatu ketika ada seorang laki-laki mendatangi Nabi Muhammad SAW, dan berkata: “Wahai Rasulullah! Apa itu shalat najafdal?” Beliau menjawab: “Mintalah afiyat dan mu’afat kepada Tuhanmu di dunia dan akhirat.” Kemudian laki-laki itu mendatanginya lagi pada hari kedua dan bertanya: “Ya Rasulullah! Apa itu shalat Najafdal?” Lalu dia juga menjawab seperti itu. Kemudian laki-laki itu mendatanginya lagi pada hari ketiga, dan bertanya seperti sebelumnya, dan dia pun menjawab dengan jawaban yang sama, lalu menambahkan, “Jika kamu diberi affiat di dunia dan diberi affiat di akhirat, maka sesungguhnya kamu beruntung.” (HR. At-Tirmidzi No. 3512. Beliau menjawab : Hadits ini hasen gharib).
Ibnu Al-Atsir berkata dalam An-Nihayah bahwa perbedaan afiyat dan mu’afat adalah afiyat artinya selamat dari penyakit dan musibah, sehat lawan penyakit. Sedangkan mu’afat adalah Allah yang menyelamatkanmu dari (keburukan) manusia dan menyelamatkan mereka dari keburukanmu, yaitu Dia mencukupi bagimu dari mereka dan mencukupi bagi mereka darimu, serta mencegah campur tangan mereka darimu dan campur tanganmu dari mereka. (Buku An-Nihayah fi Gharib Al-Hadits wa Al-Atsar Karya Ibnu Atsir, jilid 3, hal. 265).
Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim tidak mengharapkan ujian atau terburu-buru menerima siksa akhirat. Anas Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan: “Suatu ketika Nabi Shallallahu Alayhi Wassalam mengunjungi seorang Muslim yang lemah sehingga menjadi seperti burung. Nabi Shallallahu Alayhi Wassalam kemudian bertanya kepadanya: ‘Apakah kamu pernah berdoa atau meminta sesuatu kepada Allah?’ Dia menjawab: ‘Ya. Aku pernah berkata: Ya Allah, azab yang Engkau berikan kepadaku di akhirat, cepatlah azab itu untukku di dunia.’ Nabi Sallallahu Alayhi Wassalam lalu bersabda: ‘Subhanallah! Anda tidak akan bisa mengatasinya. Mengapa kamu tidak mengucapkan: Ya Allah, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungi kami dari siksa Neraka.’ Nabi SAW kemudian mendoakannya kepada Allah, lalu Allah menyembuhkannya.” (HR.Muslim no.2688).
Nabi Sallallahu Alayhi Wassalam menegurnya karena terburu-buru menanggung siksa dan musibah, dan bersabda kepadanya agar ia membaca doa:
jika Allah memberi حَسَنَةً, وَقِنَا عَذَابَ النَِ
“Ya Allah, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungi kami dari siksa Neraka.”
Hatim Al-Asham Rahimahullah berkata: “Ada empat hal yang tidak diketahui nilainya kecuali pada empat kelompok: nilai masa muda yang tidak diketahui kecuali oleh orang tua, nilai afiyat yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang tertimpa musibah, nilai kesehatan yang tidak diketahui kecuali oleh orang sakit, nilai kehidupan yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang belum meninggal.” (Buku Tanbih Al-Ghafilin Bi-Ahadits Sayyid Al-Anbiya wa Al-Mursalin Karya As-Samarkandi hal. 39).
Bakar bin Abdullah Al-Muzani Rahimahullah berkata: “Barang siapa yang muslim dan sehat jasmaninya, maka sesungguhnya dia telah mengumpulkan puncak nikmat dunia dan puncak nikmat akhirat, karena puncak nikmat dunia adalah afiyat, dan puncak nikmat setelah Islam.” (Buku Tanbih Al-Ghafilin Bi-Ahadits Sayyid Al-Anbiya wa al-Mursalin Karya As-Samarkandi hal. 445).
Mohon ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan afiyat pada saat sujud, ketika hendak berbuka, dan pada waktu antara Adzan dan Iqamat, karena tidak ada seorang pun yang dikaruniai apa pun – setelah iman – yang lebih baik dari afiyat. Baca Doa Lainnya : Ya Allah, kami mohon ampun, afiyat dan mu’afat yang tetap kepada-Mu dalam urusan keimanan, dunia dan akhirat.
Kami memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar kita semua dilindungi, diberi keselamatan, afiyat dari segala penyakit dan husnul hatim. Semoga shalawat dan shalawat selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, serta keluarga dan sahabatnya seluruhnya.
Sumber:
Artikel sumber PDF
🔍 Tarian Erotis untuk Suami, Cara Memikat Wanita Menurut Islam, Menjilati Kemaluan Suami Istri, Hukum Mengisap Kemaluan Suami Menurut Islam, Doa Agar Persalinan Normal dan Menyenangkan
Dikunjungi 5 kali, 5 kunjungan hari ini
Tampilan Postingan: 3


PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.