
Selama bertahun-tahun di Pondok Pesantren Tebuireng, baik Anda seorang santri, jurnalis, akademisi maupun peneliti, mendengarkan pengasuh berbicara di depan forum sudah menjadi rutinitas sehari-hari. Bahkan saya mempunyai kebiasaan mencatat poin-poin penting dari setiap ucapan pengasuh, semacam refleks intelektual yang sudah turun temurun sejak lama di lingkungan pesantren.
Pada masa KH. Salahuddin Wahid, gaya bicara seperti itu selalu terasa “terisi” dalam arti yang sangat literal. Gus Sholah adalah seorang penulis dan pegiat literasi yang hampir tidak pernah tampil tanpa data. Statistik, isu terkini, kritik sosial, dan pembacaan politik yang tajam, semuanya mengalir apik dalam setiap sambutannya. Duduk dan mendengarkan Gus Sholah ibarat mempersiapkan ujian. Percakapan acak tanpa dasar yang kuat bisa langsung terbaca dan sejujurnya agak berisiko di depannya.
Sepeninggal Gus Sholah pada tahun 2020, pembinaan Pondok Pesantren Tebuireng berpindah ke KH. Abdul Hakim Mahfudz, yang populer disapa Kiai Kikin, saya melihat polanya jauh berbeda. Di banyak forum, topik yang muncul cenderung berkisar pada hal yang sama yaitu perkembangan Islam, sejarah Sarekat Islam, lahirnya NU, perjuangan ulama dan pemikiran KH. Hasyim Asy’ari. Bagi telinga yang terbiasa dengan gaya Gus Sholah, pola ini mungkin terkesan monoton pada awalnya. Rasanya seperti saya sedang mendengarkan cerita yang sama, yang diulang-ulang tanpa henti.
Membaca Pengulangan Kiai Kikin Melalui Lensa Teori Sosial
Namun semakin saya mendengarkan, semakin saya curiga ada sesuatu di balik pengulangan tersebut. Ini bukan sekedar gaya bicara yang berulang-ulang, melainkan sesuatu yang terkesan disengaja, mempunyai arah dan fungsi. Pada titik ini, beberapa kerangka teori komunikatif dan sosial dirasa relevan untuk membaca lebih jelas gaya Kiai Kikin.
Melalui Teori Budidaya, George Gerbner pernah menjelaskan bagaimana pesan yang terus menerus disampaikan dalam jangka waktu yang lama secara bertahap membentuk cara orang memandang realitas di sekitarnya. Teori ini awalnya digunakan untuk membedah pengaruh media massa, namun logikanya cukup tepat dipinjam untuk memahami komunikasi kiai. Kisah-kisah tentang NU, perjuangan ulama, dan pemikiran-pemikiran Kiai Hasyim yang terus diulang-ulang perlahan membentuk kesadaran kolektif di kalangan santri tentang siapa dirinya dan ke arah mana sebenarnya perjuangan pondok pesantren ini.

Dengan kata lain, Kiai Kikin sepertinya tidak berusaha untuk memberikan kesan bahwa dirinya “selalu mendapat informasi baru” setiap kali berbicara. Yang terjadi saat ini adalah proses penanaman nilai secara bertahap. Pengulangan di sini bukan pemikiran malas, melainkan mekanisme penanaman ideologi dan tradisi hingga menetap. Sesuatu yang tadinya terdengar membosankan, sebenarnya diam-diam menyalurkan dirinya ke dalam kesadaran kolektif.
Hegemoni budaya dan retorika pelestarian identitas
Bacaan ini menjadi lebih menarik jika dibandingkan dengan gagasan hegemoni budaya Antonio Gramsci. Menurut Gramsci, dominasi cara berpikir tidak selalu lahir dari kekuatan formal, tetapi bisa muncul melalui pengulangan nilai dan narasi hingga akhirnya diterima sebagai hal yang lumrah, semacam kewajaran. kewajaran. Dalam konteks pesantren Tebuireng, mengulang-ulang sejarah NU dan kisah-kisah para ulama dapat dibaca sebagai salah satu cara agar pesantren tetap berpijak pada tradisi. Ahlussunnah wal Jamaahdi tengah berbagai arus pemikiran yang terus berdatangan dari luar.
Di era media sosial yang serba cepat dan sering melupakan sejarah, pengulangan seperti ini justru bisa dibaca sebagai bentuk perlawanan yang halus. Siswa tidak hanya diberi tahu tentang sejarah, namun senantiasa diminta untuk mengingat dari mana asalnya dan nilai-nilai apa yang harus dipegangnya. Oleh karena itu, pengulangan ceramah Kiai Kikin jika ditelaah lebih jauh sebenarnya mempunyai fungsi ideologis yang cukup kuat, jauh dari sekedar pengulangan tanpa tujuan.
Cara bertutur seperti ini sebenarnya mempunyai akar yang panjang dalam tradisi retorika, khususnya retorika epideiktik warisan Aristoteles. Retorika jenis ini tidak dirancang untuk menyampaikan informasi baru, melainkan menekankan nilai-nilai, mengagungkan tradisi, dan memperkuat identitas masyarakat. Dalam banyak pernyataan Kiai Kikin, hal tersebut bukanlah ambisi untuk tampil mengejutkan atau serba baru, melainkan upaya menghubungkan memori kolektif pesantren dari masa ke masa.
Dari sini kita bisa melihat perbedaan mendasar dari kedua sosok caregiver ini. Gus Sholah berbicara secara informatif dan kritis, sedangkan Kiai Kikin berbicara lebih ideologis dan kultural. Gus Sholah memberikan data dan analisis nyata kepada penonton, sedangkan Kiai Kikin memperkuat akar tradisional dan identitas pesantren melalui pengulangan cerita sejarah. Meski tentu saja tujuan keduanya sama, yaitu memajukan Tebuireng dan menjaga api tetap menyala.
Keduanya seharusnya tidak terlalu membingungkan. Masing-masing lahir dari kebutuhan zaman dan karakter kepemimpinan yang berbeda-beda. Gus Sholah hadir di saat yang seharusnya pesantren membuka dialog lebih luas dengan dunia modern, demokrasi dan berbagai persoalan bangsa kontemporer. Kiai Kikin hadir di saat identitas keagamaan dan tradisi pesantren menghadapi disrupsi digital, semakin terfragmentasinya otoritas keilmuan, dan pesatnya masuknya ideologi transnasional melalui ruang publik.
Oleh karena itu, apa yang selama ini saya anggap membosankan perlahan-lahan berubah menjadi sebuah kesadaran baru, yaitu bahwa mengulang-ulang di dunia pesantren tidak selalu berarti stagnasi berpikir. Bahkan, dalam banyak kasus, pengulangan adalah cara pesantren menyampaikan nilai-nilai. Pondok pesantren sejak awal hidup dengan pengulangan, pengulangan matan, pengulangan kesaksian, pengulangan Al-Qur’an, pengulangan Sunnah, pengulangan sejarah, bahkan pengulangan doa yang sama setiap hari. Dari pengulangan tersebut maka karakter, tradisi dan keberlangsungan peradaban kecil bernama Pondok Pesantren dapat tetap terjaga.
Gaya bicara ini mungkin tidak cocok untuk semua orang. Namun di dunia yang semakin mudah kehilangan akar sejarah dan mudah terhanyut oleh arus, pengulangan nilai-nilai justru bisa menjadi salah satu cara pesantren untuk menjaga kenangannya sendiri.
Relevansi kepemimpinan Kiai Kikin bagi masa depan NU
Membaca pola komunikasi tersebut, saya teringat wacana yang akhir-akhir ini banyak muncul di kalangan NU, yaitu dorongan Kiai Kikin untuk mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PBNU. Sejauh yang saya lihat, dorongan tersebut tidak datang dari ambisi pribadinya. Sebaliknya, ia lebih banyak datang dari kalangan bawah, dari sejumlah tokoh NU dan aktivis akar rumput yang melihat ada sesuatu yang unik dalam gaya kepemimpinan Kiai Kikin, sesuatu yang mungkin dibutuhkan oleh organisasi sebesar NU saat ini.
Jika menilik dari bacaan di atas, ada benang merah yang menarik untuk direnungkan. Semangat yang diusung Kiai Kikin di Tebuireng, yakni melestarikan akar sejarah, membina ingatan kolektif, dan memantapkan jati diri masyarakat melalui nilai-nilai yang berulang, sejatinya merupakan modal kepemimpinan yang sangat relevan bagi organisasi sebesar NU. Di tengah organisasi yang anggotanya tersebar dari ujung ke ujung tanah air, dengan latar belakang sosial dan tingkat pemahaman keagamaan yang berbeda-beda, kepemimpinan yang berakar kuat pada tradisi dan sabar dalam menumbuhkan kesadaran kolektif sebenarnya lebih diperlukan dibandingkan kepemimpinan yang hanya diisi dengan wacana baru setiap saat.
Hal ini tentu relevan dengan kisruh yang terjadi di NU belakangan ini. Saya sebenarnya sudah menganalisa, elite NU sudah melupakan garis besarnya muassis mendirikan NU. Qanun Asasi (AD/ART Awal) tidak menjadi cara hidup (cara hidup), tetapi sebagai artefak museum yang kadang-kadang dilihat hanya untuk tujuan sejarah. Kisruh pertikaian antar elitenya menjadi pengingat akan upaya mengeluarkan NU dari identitasnya khittah-dari jejaknya, dari cita-cita pendirinya. Di situlah NU membutuhkan karakter Kiai Kikin. Hal ini mengalami kemajuan, namun tetap mengandalkan akar sejarah dan nilai-nilai inti yang kuat.
Tentu saja ini hanya sekedar tebakan, “bagaimana seandainya” yang lahir dari pengamatan sederhana seorang santri yang sering duduk mendengarkan Kiai Kikin berceramah. Namun anggapan tersebut nampaknya cukup masuk akal untuk dipertimbangkan: jika kemampuan memelihara akar dan merawat ingatan kolektif dialihkan dari mimbar Tebuireng ke panggung PBNU, mungkin NU akan menemukan pemimpin yang tidak hanya mengelola organisasi, tetapi juga menjaga keutuhan jiwa dan ingatan kolektifnya.
Baca Juga: Gus Kikin Tekankan Pentingnya Kerukunan Ulama dan Umar Dalam Merawat Negara
Penulis: Muhammad Abror Rosyidin, akademisi dan aktivis kebudayaan NU
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.