
Tebuireng.online— Di meja belajarnya, buku-buku sains bertumpuk berdampingan dengan kamus bahasa Inggris dan lembar latihan bahasa Mandarin. Bagi Alicia Isza Az-Zahra Ainurafik, cita-cita menjadi seorang dokter tidak pernah lahir secara tiba-tiba. Impian tersebut tumbuh dari masa kecilnya, ketika ia melihat sosok ibunya yang berjas putih dan mengabdi pada kesehatan masyarakat.
Baca Juga: Bangun Kebajikan Lingkungan, MOSBA Latih Pemateri Ajak Mahasiswa Baru Peduli Lingkungan
Kini mimpi itu telah membawa para siswa SMA Trenzains Tebuireng sejauh ribuan kilometer ke Universitas Kedokteran Changsha di Tiongkok. Di kampus tersebut, Alicia akan mengambil program kedokteran klinis, membuka babak baru dalam perjalanan panjang yang telah ia persiapkan selama bertahun-tahun.
Memilih untuk melanjutkan studi di Tiongkok bukanlah keputusan yang bisa diambil dalam semalam. Bersama orang tuanya, Alicia mempertimbangkan banyak hal, mulai dari kualitas pendidikan hingga lingkungan kampus yang dinilai ramah terhadap mahasiswa internasional.
Namun, satu hal yang tidak pernah berubah adalah cita-citanya menjadi seorang dokter.

“Saya ingin menjadi dokter sejak kecil karena ibu saya menginspirasi saya,” kata Alicia saat diwawancara melalui telepon seluler (13/7).
Saat kabar kelulusannya diterima, rasa syukur menjadi hal pertama yang memenuhi hatinya. Baginya, kesuksesan tersebut bukan sekedar kualifikasi masuk universitas luar negeri, melainkan jawaban atas segala usaha, doa, dan pengorbanan yang telah dilakukannya selama ini.
“Saya sangat bersyukur. Rasanya semua usaha yang saya lakukan selama ini tidak sia-sia, apalagi saya bisa membanggakan dan membahagiakan orang tua saya,” ujarnya.
Baca Juga: Dari Danau Lele Trenzains hingga Kolam Alga, Jalan Satriyo Menuju Sukses di Dunia Bisnis
Namun, jalan menuju kampus impian Anda tidaklah mudah. Alicia harus melalui serangkaian proses seleksi, mulai dari pemerataan hasil akademik, tes kemampuan berbahasa Inggris, hingga seleksi administrasi. Bertentangan dengan anggapan banyak orang, menurutnya, universitas yang dituju justru lebih memperhatikan kualitas akademik dibandingkan jumlah prestasi kompetitif.
Di balik kesuksesannya saat ini terdapat mimpi lama yang telah berubah arah. Saat masih duduk di bangku SMA, Alicia sebenarnya bercita-cita melanjutkan studi ke Skotlandia atau Inggris. Keinginan itu muncul setelah melihat jalur akademis tantenya lulusan University of Aberdeen itu.
Namun restu orang tuanya saat itu tidak mendukung impiannya. Ia kemudian fokus ke perguruan tinggi dalam negeri dan mengikuti seleksi Universitas Pertahanan Republik Indonesia. Ketika peluang ini tidak terealisasi, sang ibu membuka jalan lain.
“Setelah saya gagal di Universitas Pertahanan, ibu saya malah mengizinkan saya mendaftar ke beberapa universitas di Tiongkok,” lanjutnya menjelaskan.
Baca Juga: Cetak Cendekiawan Muslim Global, SMA Trenssains Tebuireng Targetkan 50 Siswa Belajar di Luar Negeri
Sejak kelas XII SMA Trensains Tebuireng, Alicia mulai menyusun bagian persiapannya satu per satu. Ia dengan teliti menyelesaikan dokumen administrasi yang rumit, proses legalisasi dan berbagai persyaratan akademik, sehingga tidak ada yang terlewat.
Berbeda dengan beberapa siswa yang aktif berpartisipasi dalam banyak organisasi, Alicia memilih untuk menghabiskan masa sekolahnya dengan lebih sederhana. Dia bergabung dengan organisasi Lens sebagai koordinator Divisi Berita, tetapi menghabiskan sebagian besar waktunya untuk studinya.
Bukan berarti hari-harinya hanya diisi dengan buku pelajaran. Alicia punya caranya sendiri dalam mengatur waktu. Baginya, manajemen waktu bukan sekadar membuat jadwal padat, tapi mengetahui tujuan yang ingin dicapai.
Ia membiasakan menyelesaikan tugas lebih awal, membaca materi sebelum mulai belajar, menjaga keseimbangan antara belajar, istirahat dan beribadah.
“Menurut saya, yang terpenting adalah mengetahui tujuan kita. Kalau tujuannya jelas, maka akan lebih mudah menentukan prioritas. Upaya harus maksimal, namun tetap diiringi dengan rasa percaya kepada Allah.”
Mempersiapkan diri menghadapi Tiongkok juga berarti mempersiapkan bahasa yang benar-benar baru.
Baca juga: Peneliti Muda Pesantren, Inovasi Minyak Nabati Binahong-Kunyit Antar Santri Tebuireng Raih Juara di OPSI 2025.
Mengenal bahasa Inggris sebenarnya sudah menjadi bagian kesehariannya sejak kecil. Bersama ibunya, ia terbiasa berdialog dalam bahasa Inggris, membaca buku, menonton film, dan memperluas literasi internasionalnya.
Sementara itu, bahasa Mandarin menjadi tantangan baru yang mulai ditanggapinya dengan serius saat duduk di bangku kelas XII.
Buku HSK, kursus bahasa, drama China, dan media sosial menjadi teman kesehariannya dalam belajar. Untuk memenuhi persyaratan masuk universitas, ia juga mengikuti tes IELTS dan CSCA dengan latihan yang konsisten melalui berbagai aplikasi pembelajaran dan memperkaya kosakata khususnya istilah-istilah ilmiah.
Menurut Alicia, kesiapan akademik saja tidak cukup bagi mahasiswa yang ingin kuliah di luar negeri. Ada hal lain yang juga dianggap penting oleh universitas.
“Jangan hanya fokus pada pencapaian nilai. Personal statement dan surat lamaran juga harus menunjukkan karakter, tanggung jawab, dan tujuan hidup yang jelas.”
Baca Juga: Dua Tim Peneliti SMA Trenseins Tebuireng Raih Honorable Mention di Kompetisi Sains Nasional
Di balik semua prestasinya, Alicia jelas punya alasan yang jauh lebih besar dari sekadar meraih gelar doktor.
Pengalamannya melihat banyak masyarakat Indonesia memilih berobat di Tiongkok membuatnya bertanya-tanya. Menurutnya, Indonesia juga harus bisa memberikan pelayanan kesehatan yang lebih baik sehingga masyarakat tidak perlu berobat ke luar negeri.
Keinginan itulah yang kini menjadi bahan bakar perjalanan akademisnya. Ia berharap suatu saat ilmu yang didapat di negaranya bisa dibawa pulang untuk memberi manfaat bagi masyarakat Indonesia.
Perjalanan Alicia juga memberi kita pelajaran sederhana. Impian besar itu tidak selalu terwujud dengan cara yang benar. Ada rencana yang berubah, ada kemunduran yang terjadi, dan ada pintu baru yang terbuka ketika seseorang tidak berhenti melangkah.
“Jangan terlalu memikirkan sikap negatif orang lain. Tetap fokus pada tujuan, lakukan yang terbaik, dan bangun lingkungan yang saling mendukung dan penuh energi positif.”
Baca juga: Tiga Mahasiswa Trensains Tebuireng Raih Juara 3 Inovasi Produk di UMSIDA
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.