
Tebuireng.onlineâ Museum dan Cagar Budaya Unit Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asyâari (MINHA) mendorong pelestarian naskah keislaman melalui digitalisasi. Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Digitalisasi Naskah Keislaman bertajuk âMerekam Ingatan, Menjaga Pengetahuanâ.
Kegiatan ini berlangsung di lantai 3 Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asyâari, Jombang, Jumat (4/9/2026) pukul 08.30 hingga 16.00 WIB. Diikuti mahasiswa dan mahasantri dari berbagai perguruan tinggi serta pondok pesantren di Jawa Timur.
Baca Juga:Â IKA PMII UI dan MINHA Gelar Ziarah Buku Sejarah, Bahas Resolusi Jihad hingga Turbulensi Ekonomi
Kepala Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asyâari, Mujiburrohman, S.Hum., M.Pd., mengatakan digitalisasi menjadi salah satu langkah penting untuk menyelamatkan naskah-naskah peninggalan ulama yang rentan mengalami kerusakan karena faktor usia.
âSebagaimana kita ketahui, tinggalan masa lalu para ulama adalah masalah. Naskah kalau lama-lama akan rusak. Dengan digitalisasi, naskah tersebut bisa diselamatkan dan tetap dapat digunakan,â ujar Mujiburrohman.

Menurut dia, naskah keislaman tidak hanya memiliki nilai sebagai benda bersejarah, tetapi juga menyimpan pengetahuan dan rekam jejak intelektual para ulama. Karena itu, pelestarian naskah harus dilakukan tidak hanya terhadap bentuk fisiknya, tetapi juga terhadap pengetahuan yang terkandung di dalamnya.
Baca Juga:Â MINHA Jombang Jadi Ruang Belajar Luar Kelas bagi Siswa Sekolah
âDengan menjaga naskah, kita sebenarnya sedang menjaga pengetahuan. Digitalisasi menjadi salah satu cara agar pengetahuan itu tetap bisa dipelajari dan dimanfaatkan oleh generasi sekarang maupun generasi yang akan datang,â katanya.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program publik Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asyâari yang dirancang untuk memperluas edukasi mengenai pelestarian warisan budaya dan intelektual Islam. Peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya naskah, tetapi juga diperkenalkan pada proses dan prinsip-prinsip digitalisasi sebagai bagian dari upaya pelestarian.
Dua narasumber dihadirkan dalam kegiatan tersebut. Mereka adalah Moh. Minahul Asna, S.Ag., M.H.U., dari Tim Lajnah Turats Masyayikh Tebuireng, serta Rani Darmayanti, S.Pd., Pustakawan Ahli Madya sekaligus Tim Pelestarian Disperpursip Jawa Timur.

Kehadiran kedua narasumber memberikan perspektif yang saling melengkapi, mulai dari aspek turats dan tradisi keilmuan Islam hingga aspek kepustakawanan dan teknis pelestarian naskah.
Baca Juga:Â Rayakan Gelar Pahlawan Nasional dan Haul Gus Dur, Puncak MINHA FEST Jombang Berlangsung Meriah
Mujiburrohman menilai keterlibatan mahasiswa dan mahasantri dalam kegiatan tersebut menjadi hal penting. Generasi muda, menurutnya, memiliki posisi strategis untuk melanjutkan upaya pelestarian pengetahuan yang diwariskan para ulama.
âKami mengapresiasi para peserta yang sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Harapannya, mereka tidak hanya mengetahui bahwa naskah itu penting, tetapi juga memiliki kepedulian untuk ikut menjaga dan melestarikan pengetahuan yang ada di dalamnya,â ujarnya.
Melalui program tersebut, pihak Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asyâari berupaya mempertemukan warisan pengetahuan masa lalu dengan kebutuhan generasi masa kini. Digitalisasi diharap menjadi jembatan agar naskah-naskah keislaman tetap dapat diakses, dipelajari, dan dimanfaatkan tanpa mengabaikan upaya pelestarian naskah aslinya.
Baca Juga:Â MINHA Raih Nominasi Penghargaan Nasional sebagai Museum Komunikatif 2025
Pewarta: Humas MINHA/Awan
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.