
Imam al-Ghazali, julukan Hujjatul Islam, bukanlah sosok yang anti logika. Bahkan beliau merupakan pejuang bahasa yang menumbangkan dominasi filsafat Aristotelian yang dibawakan oleh Ibnu Sina dan Al-Farabi pada masanya. Karya monumentalnya, Tahafut al-Falasifah (Kebingungan Para Filsuf), menjadi bukti betapa intensifnya ia mempelajari filsafat sebelum akhirnya membeberkan kelemahan-kelemahan argumentasi filsafat dalam bidang metafisika (Ilahiya).
Baca juga: Tips mencapai kadar puasa yang istimewa menurut Imam Ghazali
Mengapa filsafat dikritik? Dalam kitab Munqidh min al Dholal, Al-Ghazali menegaskan bahwa alasan ketertarikannya mengkritik filsafat bukan didasari kebencian, melainkan karena para filosof dianggap telah melampaui batas akal dalam urusan ketuhanan. dia menulis:
Jika Anda tidak dapat melakukan hal ini, maka Anda perlu melakukan lebih banyak hal daripada yang lain. بنهم فيه
“Dalam ilmu ini (Ilahiyyah) banyak sekali kekeliruan sebagian besar filosof. Mereka tidak mampu berpegang teguh pada dalil-dalil yang mereka tetapkan dalam ilmu logika, sehingga banyak terjadi perselisihan di antara mereka mengenai ilmu ini”
Al-Ghazali berpendapat bahwa dalam berpikir dalam ilmu mantik (logika) dan matematika (Riyadiya), argumentasi para filosof memang kuat. Namun, ketika mereka berbicara tentang Tuhan, mereka berpegang pada dugaan (zhan) yang dibungkus dengan istilah yang luar biasa sehingga orang menganggap apa yang mereka katakan itu benar.

Baca juga: Mengenal Kitab Tanwīr al-Ḥawālik: Syarah tentang al-Muwaṭṭa karya Imam Mālik
Dalam Tahafut al-Falasifah, Al-Ghazali mencatat 20 poin kerancuan pemikiran para filosof. Dari 20 poin tersebut, 17 diantaranya dianggap sesat, namun ada 3 poin pokok yang menurut Al-Ghazali sudah keluar dari koridor Islam dan harus dikafirkan. Dia merangkumnya dalam kesimpulan bukunya:
website: تكفيرهم لا بد منه في تحلوت آلما إحديها مسالة قدم العلام وقولهم إوان قدية ودينية قولهم إن الله لا يحيط علما jika insya Allah وحشرها
“Kekafiran para filosof adalah sikap yang harus saya ambil terhadap tiga persoalan: Pertama, persoalan alam yang tidak bermula (kidama), dimana mereka mengatakan bahwa semua zat (jauhar) bersifat kekal.
- Kedamaian Alam (Qadimul Alam)
Para filsuf menyatakan bahwa alam semesta tidak mempunyai permulaan. Mereka menyatakan bahwa jika Tuhan adalah sebab yang kekal, maka akibat (alam) juga harus kekal. Al-Ghazali menolak keras pertanyaan tersebut, karena baginya pendapat tersebut melanggar konsep Irada (Kehendak) Tuhan. Jika alam itu abadi, maka Tuhan menciptakan alam bukan karena kehendaknya, melainkan karena kebutuhan alam (seperti cahaya yang otomatis keluar dari matahari). Al-Ghazali menekankan bahwa alam diciptakan dari ketiadaan (al hudust) atas kehendak Allah yang kekal untuk menciptakan sesuatu pada waktu tertentu.
- Allah tidak mengetahui sesuatu secara detail (al Juz’iyyah)
Kesalahan kedua yang paling fatal adalah pernyataan mereka bahwa Tuhan hanya mengetahui hal-hal yang bersifat universal (kulliyyah), tidak mengetahui secara detail peristiwa-peristiwa kecil yang menimpa makhluk-Nya (juz’yyyah). Para filosof berpikir seperti ini: Jika Tuhan mengetahui setiap perubahan yang terjadi di dunia (misalnya: sekarang A duduk, sedetik kemudian dia berdiri), berarti ilmu Tuhan ikut bergerak seiring dengan perubahan itu.
Baca juga: Mengenal kitab Tafsir Kasyf Wa Al-Bayān karya Al-Tha’labī
Menurut mereka, jika ilmu Tuhan berubah dari “mengetahui A sedang duduk” menjadi “mengetahui A sedang berdiri”, maka hakikat Tuhan pun ikut berubah. Karena Tuhan itu konstan dan tidak berubah, mereka menyimpulkan bahwa Tuhan hanya mengetahui hal-hal yang bersifat umum dan kekal, bukan perubahan kecil yang terus berubah. Al-Ghazali membantah pernyataan tersebut. Singkatnya, bayangkan Anda sudah mengetahui jadwal kereta api dari pagi hingga malam. Ketika kereta lewat pukul 10.00, apakah pengetahuan Anda berubah? Tentu saja bukan karena Anda hanya melihat apa yang sudah Anda ketahui. Dan bayangkan ketika sehelai daun gugur, itu bukanlah kabar baru bagi Tuhan, melainkan bagian dari rencana besar yang Dia ketahui sejak kekekalan. Oleh karena itu, jika kita mengatakan bahwa Tuhan tidak mengetahui detail-detail kecil (seperti siapa yang menangis atau ada daun yang jatuh), hal itu justru menghina kesempurnaan Tuhan.
Bagaimana mungkin Tuhan yang menciptakan segala sesuatu bahkan tidak mengetahui apa yang terjadi pada ciptaan-Nya sendiri? Mengatakan Tuhan tidak mengetahui sama saja dengan berasumsi bahwa ilmunya ada batasnya, padahal Tuhan mengetahui segalanya.
- Penolakan Kebangkitan Fisik (Hashr al-Ajsad)
Para filosof percaya bahwa di akhirat hanya jiwa yang akan dibangkitkan, sedangkan jasad akan musnah selamanya. Mereka meyakini bahwa gambaran surga dan neraka dalam Alquran hanyalah metafora yang memudahkan orang awam memahami kenikmatan atau penderitaan spiritual. Al-Ghazali menegaskan, Allah SWT yang akan memulihkan jasad yang telah musnah. Anggapan bahwa kebangkitan hanya bersifat spiritual merupakan bentuk pengingkaran terhadap nash qath’i (tertentu) dalam wahyu yang menjelaskan kenikmatan surga dan neraka.
Kritik Imam Al-Ghazali dalam Tahafut al-Falasifah bukan bertujuan untuk mematikan akal, melainkan memberikan “bagian” yang tepat pada akal. Beliau ingin menunjukkan bahwa akal manusia mempunyai keterbatasan dalam mencapai hakikat ketuhanan tanpa bimbingan wahyu.
Baca juga: Menggali peninggalan Kiai Hasyim melalui lomba membaca kitab Adab al-‘Ālim wa al-Muta’allim
Bagi Al-Ghazali, para filosof terjebak dalam arogansi intelektual dengan berusaha mengukur Tuhan dengan logika manusia yang terbatas. Ia mengakhiri diskusinya dengan kesadaran bahwa kebenaran hakiki tentang Tuhan hanya dapat ditemukan melalui kashf (penyangkalan spiritual) dan ketaatan pada wahyu, bukan sekadar permainan silogisme yang kering.
Melalui karyanya, Al-Ghazali berhasil menjaga keimanan umat dari sinkretisme pemikiran Yunani yang tidak sesuai dengan prinsip tauhid, sekaligus memperkuat posisi teologi Islam (kalam) sebagai disiplin ilmu yang mandiri dan kuat.
Judul Buku: Terjemahan Tahafut al-Falasifah (Kebingungan Filsafat)
Judul Terjemahan: Terjemahan Kebingungan Filsafat (Tahafut al-Falasifah)
Judul asli dalam teks Arab: تهافت الفلاسفة
Judul bahasa Inggris: Inkoherensi Para Filsuf
Pengarang/Penulis: Imam Al-Ghazali
Bidang studi: tasawuf, filsafat
Penerjemah: Achmad Maimun
penulis: M.Iklil Farido Amirudin, Mahasantri Ma’had Aly Darussalam Blokagung
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.