
Kota Jombang baru saja selesai diguyur hujan deras saat jam dinding di kamar Zul menunjukkan pukul sebelas malam. Aroma tanah basah—petrichor yang tajam—menyeruak masuk melalui celah jendela yang sedikit renggang, seolah membawa kembali memori tentang aroma kopi hitam dan parfum jeruk yang selalu identik dengan seorang wanita yang kini berada sepuluh ribu kilometer jauhnya. Di sudut kamar yang hanya diterangi lampu meja yang meredup, Zul duduk diam. Di hadapannya, bukan lagi laporan audit yang biasanya ia kerjakan hingga larut malam dengan mata lelah, melainkan sebuah jurnal tua dengan sampul kulit yang mulai mengelupas di bagian sudutnya.
Zul adalah seorang pria yang terbiasa dengan logika dan angka-angka pasti. Pekerjaannya sebagai seorang akuntan senior menuntut ketepatan, rasionalitas, dan bukti nyata yang bisa dipertanggungjawabkan di atas kertas. Baginya, satu ditambah satu haruslah dua; tidak boleh ada ruang untuk keraguan. Namun, dalam hal perasaan, Zul adalah seorang penyair yang kehilangan kata-kata. Ia adalah seorang pria yang memilih untuk mencintai dengan cara yang paling purba, paling sunyi, dan mungkin paling berisiko bagi kesehatan mentalnya sendiri: melalui doa.
Semua ini bermula tiga tahun lalu, di sebuah gedung perkantoran pencakar langit yang angkuh di pusat Jakarta. Lara masuk ke kehidupan Zul tanpa permisi, seperti angin muson yang tiba-tiba membawa kesejukan di tengah teriknya aspal ibu kota. Lara bukan hanya sekadar rekan kerja satu divisi; dia adalah matahari bagi Zul yang selama ini terbiasa hidup tenang dalam bayang-bayang kubikelnya yang sempit.
Lara adalah tipe wanita yang akan tertawa paling keras saat mendengar lelucon garing Zul yang bahkan tidak dianggap lucu oleh orang lain. Dia adalah orang pertama yang memberikan segelas kopi instan hangat dan kata-kata penyemangat saat Zul baru saja keluar dari ruang direksi dengan wajah lesu setelah ditegur atasan. Lara memiliki energi yang tidak terbatas, dan yang paling penting, dia memiliki mimpi sebesar cakrawala yang sering ia ceritakan saat jam istirahat makan siang.
Zul masih mengingat betul sore itu, saat mereka terjebak di lobi kantor karena hujan badai yang melumpuhkan Jakarta. Suasana lobi sangat riuh, penuh dengan karyawan yang tidak bisa pulang. Namun, di mata Zul, dunia seolah berhenti berputar hanya pada sosok Lara. Wanita itu menatap tetesan air yang meluncur di balik kaca besar dengan mata berbinar, memantulkan lampu-lampu jalanan yang mulai menyala.

“Zul, kamu tahu? Kadang aku merasa hidup ini terlalu pendek kalau cuma dihabiskan di balik kubikel ini, menghitung angka yang sebenarnya bukan milik kita,” ucap Lara tanpa menoleh, napasnya membentuk embun tipis di kaca.
“Lalu, apa yang benar-benar ingin kamu lakukan, Ra?” tanya Zul, sambil berusaha menekan detak jantungnya yang mendadak tidak beraturan.
“Aku ingin melihat salju turun di Edinburgh. Aku ingin kuliah lagi, mengambil spesialisasi konservasi lingkungan yang aku mimpikan sejak kecil. Aku ingin menyelamatkan hutan, Zul, bukan sekadar menyelamatkan neraca perusahaan. Tapi rasanya jauh sekali ya? Seperti pungguk merindukan bulan,” lanjutnya dengan senyum getir.
Saat itu, Zul hanya bisa tersenyum simpul dan mengangguk pelan. Ia tidak memiliki keberanian untuk mengatakan bahwa ia bersedia mendukung apa pun mimpinya. Ia tidak tahu bahwa setahun kemudian, Lara benar-benar mendapatkan beasiswa penuh dari pemerintah Inggris. Ia juga tidak tahu bahwa sore yang basah di lobi kantor itu adalah awal dari sebuah kepergian panjang yang akan menyisakan ruang hampa yang amat luas di dadanya.
Hari keberangkatan Lara di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta adalah momen paling berat yang pernah dialami Zul. Udara bandara yang biasanya dingin karena AC terasa pengap dan menyesakkan. Zul berdiri di sana, di barisan paling belakang di antara teman-teman kantor lainnya yang riuh memberikan pelukan, hadiah kenang-kenangan, dan doa-doa sukses yang klise.
Ketika giliran Zul tiba, lidahnya mendadak kelu. Seluruh kata-kata manis yang telah ia susun di kepala selama seminggu penuh menguap begitu saja. Zul hanya mampu menjabat tangan Lara dengan sangat erat, seolah-olah seluruh sisa energinya ia tumpukan pada genggaman itu agar Lara tahu ada sesuatu yang sangat penting yang ingin ia sampaikan, namun tak sanggup diucapkan.
“Hati-hati di sana, Ra. Jangan lupa pakai jaket tebal. Aku dengar musim dingin di sana bisa sangat kejam bagi orang tropis seperti kita,” hanya itu kalimat membosankan yang berhasil keluar dari mulut Zul.
Lara tersenyum, senyum yang sama yang selalu berhasil membuat Zul merasa seperti orang paling beruntung sekaligus paling malang di dunia. “Terima kasih, Zul. Jaga diri baik-baik ya di sini. Jangan terlalu sering lembur, nanti kamu sakit. Siapa lagi yang mau dengerin ceritaku lewat telepon kalau kamu pingsan karena kerja?”
Lara melambaikan tangan untuk terakhir kalinya sebelum menghilang di balik pintu keberangkatan internasional. Zul berdiri diam di tempatnya, mematung selama hampir tiga puluh menit hingga punggung Lara benar-benar hilang ditelan kerumunan calon penumpang. Saat itulah, Zul menyadari satu kesalahan fatalnya: ia tidak pernah mengatakan bahwa ia mencintai wanita itu. Ia merasa terlambat, atau mungkin, jauh di lubuk hatinya, ia merasa dirinya tidak cukup sebanding untuk bersanding dengan mimpi-mimpi besar Lara yang melangit. Sejak hari itu, Zul berjanji pada dirinya sendiri bahwa meskipun ia tidak bisa hadir secara fisik untuk memegang payung saat Lara kehujanan di Skotlandia, ia akan selalu ada di baris terdepan dalam menjaga Lara lewat cara yang tak terlihat oleh mata manusia: frekuensi langit.
Bagi Zul, mencintai dalam diam bukan berarti ia menyerah pada keadaan. Ia menemukan sebuah kekuatan baru yang ia sebut sebagai “Cinta Jalur Langit”. Ia menyadari bahwa jika ia tidak bisa menjangkau Lara melalui pesan singkat atau panggilan video yang terbatas oleh zona waktu, ia bisa menjangkaunya melalui Sang Pemilik Alam Semesta yang tidak mengenal batasan waktu dan ruang.
Setiap malam di Jombang, ketika seluruh penduduk kota mulai terlelap dan kebisingan jalan raya berubah menjadi sunyi yang mencekam, Zul akan terbangun. Ia mengambil wudhu dengan air yang terasa sedingin es, lalu membentangkan sajadah birunya di sudut kamar yang sama setiap hari. Di sana, di atas kain sujud yang mulai pudar warnanya itu, Zul menanggalkan semua topeng profesionalitasnya. Ia bukan lagi Zul si akuntan yang kaku dan penuh perhitungan. Ia adalah seorang hamba yang ringkih, yang sedang mengadukan seluruh rindunya pada Sang Pemilik Hati.
“Ya Tuhan yang Maha Penjaga,” bisiknya dalam kesunyian yang dalam. “Jarak yang membentang antara aku dan Lara mungkin tidak bisa kulalui dengan kaki ini. Tabunganku mungkin belum cukup untuk membelikan tiket pesawat ke sana setiap bulan. Namun, Engkau tidak terbatas oleh kilometer. Aku titipkan satu nama dalam penjagaan-Mu malam ini. Sebutlah namanya, Lara, di depan para malaikat-Mu agar mereka senantiasa melindunginya dari marabahaya dan rasa sedih.”
Doa Zul tidak pernah singkat. Ia akan merinci setiap kekhawatirannya layaknya ia merinci laporan keuangan. Jika ia melihat berita di televisi tentang badai salju hebat yang melanda Inggris Utara, ia akan bersujud lebih lama, memohon agar suhu di kamar kost Lara tetap hangat dan pemanas ruangannya tidak rusak. Jika ia tahu melalui unggahan media sosial bahwa hari itu Lara ada ujian tesis atau presentasi besar, ia akan memohon agar pikiran wanita itu diterangi cahaya ketenangan dan lidahnya dimudahkan dalam berucap. Baginya, doa adalah surat cinta rahasia yang ia kirimkan ke langit, di mana prangkonya adalah air mata ketulusan dan alamatnya adalah takdir yang belum terungkap.
Ia selalu menutup doanya dengan kalimat yang sama setiap malam, sebuah mantra yang menguatkan hatinya sendiri: “Tuhan, jika kehadiranku di hidupnya bukan untuk memilikinya, maka jadikanlah kehadiranku sebagai berkah yang ia rasakan tanpa ia perlu tahu dari mana asalnya. Selalu ada namanya dalam setiap tarikan nafas dan doaku, dan itu sudah cukup untuk membuatku merasa sangat dekat dengannya, sedekat urat nadi.”
Tentu saja, hubungan mereka tetap terjaga melalui teknologi. Mereka sesekali bertukar pesan singkat atau foto. Namun, sebagai pria yang sadar posisi, Zul tidak pernah menanyakan hal-hal yang terlalu pribadi atau menuntut perhatian lebih. Ia memposisikan dirinya sebagai pendengar yang baik, sebuah dermaga tempat Lara bisa menyandarkan lelahnya.
***
Suatu sore yang kelabu di Edinburgh—yang berarti tengah malam di Jombang—Lara mengirimkan sebuah foto. Di foto itu, ia berdiri sendirian di depan perpustakaan tua University of Edinburgh dengan latar pohon-pohon meranggas yang tertutup salju tipis. Wajahnya tampak pucat dan matanya sembab.
Lara menuliskan pesan panjang: “Zul, hari ini rasanya berat sekali. Aku hampir gila. Proposal tesisku ditolak mentah-mentah oleh pembimbingku yang sangat perfeksionis. Aku sempat menangis di taman tadi siang karena merasa sangat sendirian di negeri orang ini. Aku ingin pulang saja ke Jakarta, rasanya aku tidak berbakat di sini. Tapi aneh, Zul… tepat saat aku merasa benar-benar ingin menyerah dan memesan tiket pulang, tiba-tiba ada perasaan hangat yang menyelimutiku. Seperti ada seseorang yang sedang memelukku dari belakang dan membisikkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Aku langsung ingat kamu. Wajahmu yang tenang dan sabar selalu muncul di kepalaku kalau aku sedang kalut. Apa kamu sedang mendoakanku ya?”
Zul menatap layar ponselnya cukup lama di tengah kegelapan kamar. Jantungnya berdegup kencang, dan matanya mulai berkaca-kaca. Ia tidak menyangka bahwa ketukan pintunya ke langit di sepertiga malam benar-benar didengar dan dikirimkan oleh Tuhan sebagai energi ketenangan bagi Lara yang berada di belahan bumi lain. Zul tidak ingin sombong atau merusak kemurnian doanya dengan mengakui hal itu secara terang-terangan.
Ia hanya membalas dengan bijak: “Mungkin itu hanya hatimu yang sedang menguatkan dirimu sendiri, Ra. Kamu wanita yang kuat, aku tahu itu sejak kita pertama kali bertemu di lobi kantor. Tapi jika benar ada yang mendoakanmu dari jauh, semoga doa itu selalu sampai tepat waktu. Jangan menyerah sekarang. Edinburgh sudah menunggumu untuk menaklukkannya. Ingat mimpimu tentang hutan-hutan di Indonesia yang butuh kamu selamatkan nanti.”
***
Waktu terus bergulir tanpa kompromi. Satu tahun berubah menjadi dua, lalu tiga tahun terlewati. Zul tetap konsisten dengan rutinitasnya. Di Jombang, hidupnya tampak monoton. Teman-teman kantor dan keluarganya mulai bertanya-tanya kapan ia akan mencari pasangan, atau setidaknya mencoba berkencan dengan wanita lain. Beberapa kali ibunya mencoba menjodohkannya dengan gadis lokal yang baik, namun Zul selalu menolak dengan halus.
“Belum waktunya, Bu,” jawabnya dengan senyum tipis yang penuh rahasia.
Di dalam hatinya, sudah ada satu nama yang terpatri begitu dalam hingga tak ada ruang lagi untuk nama lain. Zul belajar sebuah filosofi cinta yang mahal: bahwa mencintai tidak harus selalu tentang kepemilikan raga. Ada kepuasan spiritual yang luar biasa saat melihat orang yang kita cintai berhasil meraih mimpinya satu per satu, meskipun kita hanya bisa menonton dari barisan penonton paling belakang, tanpa pernah dipanggil ke atas panggung untuk ikut merayakannya.
Zul menjadi saksi bisu dari kejauhan. Ia melihat melalui LinkedIn bagaimana Lara lulus dengan predikat Distinction, bagaimana ia kemudian mulai bekerja di sebuah lembaga lingkungan internasional bergengsi, dan bagaimana ia tumbuh menjadi wanita yang semakin anggun, kuat, dan vokal. Nama Lara tetap ada di sana, di sela-sela sujudnya, di antara tarikan napasnya yang paling dalam. Baginya, mendoakan Lara adalah bentuk kesetiaan yang paling murni karena ia benar-benar tidak mengharapkan imbalan apa pun di dunia ini. Cukuplah Tuhan dan sajadah biru itu yang menjadi saksi bisu perjuangannya.
Hingga pada suatu hari yang tak terduga, sebuah undangan resmi masuk ke kotak masuk email pribadi Zul. Jantungnya hampir copot saat membaca nama pengirimnya. Bukan undangan pernikahan seperti yang selalu ia takutkan dalam mimpi buruknya, melainkan sebuah undangan seminar internasional tentang perubahan iklim yang akan diadakan di Jakarta. Dan di sana, tertera nama pembicara utamanya: Lara Anindita, M.Sc.
Hari yang dinanti itu akhirnya tiba. Zul mengambil cuti dari kantor akuntannya di Jombang dan berangkat ke Jakarta. Ia berdiri di barisan paling belakang aula hotel berbintang yang megah itu. Dari kejauhan, ia melihat Lara. Wanita itu tampak sangat anggun mengenakan batik modern, berdiri dengan penuh percaya diri di atas panggung. Suaranya lantang saat menjelaskan tentang konservasi mangrove, matanya berbinar-binar persis seperti sore itu di lobi kantor tiga tahun lalu. Zul hanya bisa menatapnya dengan rasa bangga yang memenuhi seluruh rongga dadanya hingga ia sulit bernapas.
Selesai acara, saat kerumunan mulai bubar dan banyak orang berebut ingin bersalaman dengan narasumber, Lara tiba-tiba menghentikan langkahnya. Matanya menyapu seluruh ruangan, dan entah bagaimana—mungkin karena magnet doa yang selama ini Zul pancarkan—matanya tertuju tepat pada sosok pria yang berdiri tenang di barisan belakang.
Lara segera bergegas menghampirinya, mengabaikan beberapa panitia yang ingin mengajaknya bicara.
“Zul!” seru Lara. Napasnya sedikit terengah karena berjalan cepat.
“Hai, Ra. Selamat ya, seminarmu luar biasa. Kamu benar-benar sudah menaklukkan Edinburgh,” ucap Zul dengan nada yang diusahakan se-profesional mungkin, meski tangannya sedikit gemetar.
Lara tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menatap Zul cukup lama, mencari-cari sesuatu di dalam mata pria itu. Sebuah keheningan tercipta di antara mereka, di tengah hiruk-pikuk aula yang mulai kosong.
“Zul, aku mau jujur satu hal,” suara Lara mulai melunak. “Selama tiga tahun di sana… setiap kali aku jatuh, setiap kali aku sakit, atau setiap kali aku merasa hampir menyerah pada dinginnya Skotlandia, aku selalu merasa ada kekuatan misterius yang memelukku. Perasaan itu sangat nyata, Zul. Dan yang paling aneh, setiap kali perasaan itu datang, namamu selalu muncul di kepalaku tanpa diundang.”
Lara menjeda kalimatnya, matanya mulai berkaca-kaca. “Boleh aku tanya satu hal yang sangat jujur? Apa benar selama ini… selalu ada namaku dalam setiap doa-doamu?”
Zul terdiam. Logika akuntannya menyuruhnya untuk berbohong atau memberikan jawaban aman demi menjaga harga diri dan rahasianya. Namun, hatinya menolak keras. Setelah tiga tahun berdialog dengan Tuhan, ia merasa sudah saatnya ia jujur pada hamba-Nya. Ia mengangguk pelan, sebuah anggukan yang jujur, tulus, dan penuh beban rindu yang akhirnya terlepas.
“Selalu, Ra. Tidak pernah ada satu malam pun di Jombang yang kulewatkan tanpa menitipkanmu pada Sang Penjaga. Karena bagiku, itu adalah satu-satunya cara aku bisa memelukmu tanpa perlu menyentuhmu. Itu cara aku memastikan bahwa kamu baik-baik saja, meski aku tidak ada di sana.”
Lara tersenyum di tengah tangisnya yang pecah. Ternyata benar, doa adalah bahasa cinta yang paling sunyi namun memiliki frekuensi yang paling dahsyat kekuatannya. Di aula itu, mereka menyadari bahwa meski raga mereka sempat terpisah sepuluh ribu kilometer, jiwa mereka telah lama bertemu dan bercakap-cakap di langit yang sama, melalui perantara doa-doa yang tak pernah putus.
Malam itu, Zul kembali ke kamarnya di Jombang setelah menempuh perjalanan pulang dari Jakarta. Ia kembali bersimpuh di atas sajadah birunya yang sudah menemaninya selama tiga tahun terakhir. Namun kali ini, ada yang berbeda. Beban di pundaknya terasa lebih ringan.
“Terima kasih, Tuhan, karena telah membiarkan dia tahu,” bisiknya dalam sujud yang paling panjang. “Sekarang, apa pun takdir yang Engkau gariskan untuk kami ke depannya—apakah kami akan bersama atau tetap di jalan masing-masing—aku akan menerimanya dengan lapang dada. Namun, ijinkan aku tetap menjalankan tugasku yang paling kucintai: menyelipkan namanya dalam setiap napas dan sujudku, selamanya.”
Sebab bagi Zul, mencintai melalui doa bukan lagi sebuah strategi untuk mendapatkan, melainkan sebuah cara untuk terus mencintai tanpa syarat dan tanpa batas waktu. Di Jombang yang kembali diguyur hujan, Zul menemukan kedamaiannya. Ia sadar bahwa cinta yang paling tinggi adalah cinta yang sanggup melepaskan ego kepemilikan dan menggantinya dengan ketulusan untuk saling menjaga dalam doa.
Penulis: Muchamad Zulfikar
Editor: Rara Zarary
News
Berita Teknologi
Berita Olahraga
Sports news
sports
Motivation
football prediction
technology
Berita Technologi
Berita Terkini
Tempat Wisata
News Flash
Football
Gaming
Game News
Gamers
Jasa Artikel
Jasa Backlink
Agen234
Agen234
Agen234
Resep
Download Film
Gaming center adalah sebuah tempat atau fasilitas yang menyediakan berbagai perangkat dan layanan untuk bermain video game, baik di PC, konsol, maupun mesin arcade. Gaming center ini bisa dikunjungi oleh siapa saja yang ingin bermain game secara individu atau bersama teman-teman. Beberapa gaming center juga sering digunakan sebagai lokasi turnamen game atau esports.
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.