
Tebuireng.online- Alumni Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Pesantren Tebuireng, Ustadz Dimas Setyawan Saputro, S.Ag., M.Sos., CICoR, melakukan misi dakwah internasional di Jepang selama tiga bulan.
Dalam wawancaranya, Ustadz Dimas menjelaskan awal mula keberangkatannya ke Jepang. Beliau menyampaikan, “Saya berangkat ke Jepang pada tanggal 13 Februari 2026 dan umur paspor saya baru 3 bulan, hingga tanggal 9 Mei 2026. Selama di Jepang, kegiatan dakwah terfokus pada satu daerah yaitu Kandatsu, Tsuchiura, Prefektur Ibaraki, Jepang,” ujarnya.
Misi utama pertunjukan ini adalah memakmurkan masjid-masjid yang didirikan oleh Komunitas Warga Negara Indonesia (WNI) di daerah tersebut. Selama di Jepang, Ustadz Dimas berperan sebagai imam salat lima waktu, guru (qori) rutin mempelajari kitab kuning, serta sholat jumat dan sholat idul fitri.
Fokus kegiatan dakwahnya di satu daerah yaitu Kandatsu. Tujuannya untuk membantu warga Indonesia yang membutuhkan bimbingan dalam beribadah di sana, kata Dimas saat diwawancara, Rabu (4/1/2026).
Program dakwah tahunan ini difasilitasi oleh Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) setempat yang dipimpin oleh Mochamat Abdul Rohim. Selain ritual ibadah formal, program ini juga menjadi ruang konsultasi bagi warga negara Indonesia untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yurisprudensi minoritas (fiqh al-aqalliyat). Tantangan hidup dalam masyarakat non-Muslim seringkali menimbulkan permasalahan hukum Islam yang memerlukan pendekatan khusus.

Materi keagamaan yang disampaikan cukup beragam, meliputi aspek hukum spiritualitas. “Materi yang disampaikan beragam, mulai dari materi ubudiyah menggunakan buku Bulughul Marammempelajari tasawuf dengan sebuah buku Bidayatul Hidayahhingga penafsiran Alquran,” jelas Dimas.
Ustadz Dimas berharap dengan adanya fasilitas masjid yang memadai akan memudahkan para pekerja dan pelajar Indonesia di Jepang dalam menunaikan kewajiban keagamaannya. Ia juga mendorong organisasi keagamaan di Tanah Air, khususnya Nahdlatul Ulama (NU), untuk meningkatkan perhatian terhadap umat Islam di Jepang seiring dengan berdirinya PCINU, Ansor dan Banser di Negeri Sakura.
Sebagai langkah konkrit pasca kegiatan, Dimas berencana mendokumentasikan berbagai permasalahan liturgi dan permasalahan yang ditemuinya di lapangan.
“Temuan terkait yurisprudensi minoritas akan saya diskusikan bersama Lembaga Bahtsul Masail (LBM) Pondok Pesantren Tebuireng. Tujuannya untuk menyusun buku saku yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan ibadah bagi umat Islam yang hidup sebagai minoritas,” tutupnya.
Wartawan: Fatih
Editor: Sutan
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.