
Tidak sedikit di antara kita yang terjebak dalam sistem monarki yang memberikan amanah atau kepercayaan terhadap sesuatu kepada seseorang yang tidak memiliki kapasitas keilmuan atau integritas, hanya karena orang tersebut adalah “anak dari tokoh itu” atau “anak tersebut mempunyai garis keturunan raja, priyayi atau kyai”.
Fenomena ini sering kita jumpai, khususnya di sebuah lembaga pendidikan Islam (pondok pesantren), ketika kyai pimpinan pesantren tersebut meninggal dunia, dimana tongkat estafet seringkali jatuh kepada putra mahkota yaitu anak-anaknya. Bahkan seringkali ditemukan keturunan para kyai tersebut tidak memiliki kapasitas keilmuan yang memadai untuk memberikan pengajaran atau memiliki ilmu manajemen yang baik dalam pengelolaan pesantren.
Di tengah banyaknya fenomena yang terjadi di atas, terkadang kita harus belajar dan berpikir dari kisah Syekh Imam Izzudin bin Abdisalam, salah satu ulama dan guru di Madrasah Sholihiyyah Mesir. Ia pun mendapat julukan Sulthonul Ulama.
Ketika kematiannya akan segera tiba, Khalifah Bibris (salah satu sultan yang memerintah Mesir dan Suriah pada tahun 1260 hingga 1277) menceritakan kepada Syekh Imam Izzuddin bin Abdisalam
“Pilihlah salah satu anakmu untuk memimpin dan meneruskan madrasah ini.”

Mendengar permintaan Khalifah Bibris, Syekh Imam Izzudin bin Abdisalam tidak langsung mengangkat salah satu putranya. Ia bahkan dengan sopan menolak permintaan Khalifah sambil berkata;
“Tidak ada anak saya yang layak.”
Jawaban Syekh Imam Izzudin bin Abdisalam menciptakan sejarah yang sangat istimewa. Padahal mereka adalah anak-anak seorang ulama besar yang sangat dihormati dan diakui ilmunya oleh sekelompok ulama. Sebab bagi Syekh Imam Izzudin bin Abdisalam, jabatan tersebut bukanlah warisan keluarga yang harus diwariskan kepada anak-anaknya.
Yang mengejutkan, Syekh Imam Izzudin bin Abdissalam justru menunjuk salah satu muridnya yang memang layak untuk meneruskan tongkat estafet memimpin madrasah tersebut.
Hikmah yang dapat dipetik dari cerita di atas mengajarkan kita bahwa pengetahuan dan kepercayaan tidak rentan terhadap nepotisme semu. Inilah yang disebut integritas profesional sejati.
Oleh karena itu, cerita ini juga secara tidak langsung menyampaikan pesan bahwa jabatan tersebut bukan berkaitan dengan garis keturunan, melainkan tentang kredibilitas seseorang untuk mampu menjalankan tugasnya dengan amanah dan jujur.
Baca juga: Kepemimpinan dalam Pendidikan Islam, Hikmah dari Ihya’ Ulumuddin
Pengarang : Dimas Setyawan Saputro
Editor: Sutan
Berita Terkini
Berita Terbaru
Daftar Terbaru
News
Jasa Impor China
Berita Terbaru
Flash News
RuangJP
Pemilu
Berita Terkini
Prediksi Bola
Technology
Otomotif
Berita Terbaru
Teknologi
Berita terkini
Berita Pemilu
Berita Teknologi
Hiburan
master Slote
Berita Terkini
Pendidikan
Resep
Jasa Backlink
Slot gacor terpercaya
Anime Batch
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.