
Di bulan suci Ramadhan, setiap umat Islam wajib berpuasa. Dalam menjalankannya, kita disarankan untuk mengintensifkan berbagai bentuk ibadah lainnya, seperti membaca Al-Qur’an, melantunkan zikir, melantunkan salawat, serta memanfaatkan waktu untuk istirahat atau tidur.
Namun, ada satu narasi keagamaan yang harus kita telaah secara kritis, yaitu ungkapan bahwa “impian orang yang lebih cepat adalah beribadah.” Masalahnya, apakah premis tersebut bisa dijadikan legitimasi untuk menghabiskan waktu tidur seharian? Mari kita lihat ungkapan ini dari sudut pandang logis yang mengutamakan prinsip keadilan.
Logikanya, ungkapan tersebut memiliki nilai kebenaran jika dibandingkan dengan perbuatan asusila atau kegiatan tercela. Jika seseorang tidak mampu mengendalikan mulutnya karena perilaku bergosip (bergosip) atau menebar keburukan saat berpuasa, maka tidur menjadi pilihan yang lebih bermanfaat.
Dalam konteks ini, tidur berfungsi sebagai mekanisme preventif yang mencegah seseorang melakukan perbuatan dosa. Maka pada saat ini, mimpi tersebut boleh dipuja karena menjaga keutamaan puasa dari noda kemaksiatan.
Puasa sebagai instrumen peningkatan kualitas diri
Namun makna tidur sebagai ibadah menjadi kurang relevan jika dibandingkan dengan aktivitas positif yang bernilai amal shaleh, seperti membaca Al-Qur’an, mencari ilmu, bersedekah atau berdzikir.

Karena puasa sebenarnya merupakan salah satu instrumen ibadah yang bertujuan untuk membentuk kedisiplinan dan meningkatkan kualitas diri (nilai peningkatan), bukan untuk melatih seseorang menjadi orang yang pasif atau malas. Puasa juga mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang lebih peka dan suka introspeksi diri.
Nah, jika selama berpuasa kita hanya menghabiskan waktu untuk tidur saja, tentu hal tersebut tidak akan membawa dampak positif bagi kita. Selain itu, tindakan tidur seharian saat puasa juga tidak sejalan dan relevan dengan tujuan puasa itu sendiri.
Hakikat ketakwaan dan keikhlasan beribadah
Tujuan utama berpuasa adalah menjadi orang yang bertakwa. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 183 yang berbunyi:
يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ Tuhan memberkatimu لَعكل تَتَّقُوْنَۙ
Ya ayyuhal-lażīna āmanū kutiba ‘alaikumus-ṣiyāmu kamā kutiba ‘alal-lażīna min qablikum la’allakum tattaqūn(a).
artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Secara sederhana, pada hakikatnya kita dapat mengartikan ketakwaan sebagai kesungguhan dalam menjalankan apa yang diperintahkan Allah (swt). beliau juga memerintahkan agar sebisa mungkin menjauhi apa yang dilarang-Nya.
Untuk mencapai tingkat kesalehan tersebut tentu saja memerlukan usaha yang kuat dan tekad yang besar. Sebab, jika dipikir bersama-sama, sifat mulia dari ibadah sungguh sulit dicapai ketika seseorang hanya lebih memilih bermalas-malasan dan mengabaikan produktivitas selama berpuasa. Bukankah itu faktanya? Benar sekali, bukan?
Etika istirahat dan keadilan bagi tubuh
Pada titik ini kita juga harus memahami bahwa Islam tentu tidak pernah melarang seseorang untuk beristirahat. Islam bukanlah agama yang ekstrim apalagi kejam dan memberatkan pemeluknya. Tidur siang hari saat puasa diperbolehkan karena dapat membantu memulihkan energi dan menyegarkan fungsi kognitif otak kita. Namun hal ini harus dilakukan secara proporsional dan tidak berlebihan.
Prinsip keadilan berlaku di sini – adil terhadap waktu dan adil terhadap hak-hak tubuh. Tidur yang bermartabat adalah istirahat yang dimaksudkan agar ketika bangun kita mempunyai kekuatan baru untuk melanjutkan ketaqwaan dan ibadah kita kepada-Nya, bukan tidur yang merupakan wujud kemalasan.
Penutupan
Berdasarkan ulasan sebelumnya, kami sampai pada kesimpulan bahwa sayang sekali jika kita melewatkan momentum Ramadhan yang penuh berkah ini hanya karena kita ditidurkan seharian. Oleh karena itu, kita berpuasa sesuai dengan tujuan syariat, yaitu sebagai sarana untuk melatih disiplin dan meningkatkan nilai-nilai kemanusiaan, dan hasilnya kita tergolong orang yang bertakwa.
Demikianlah, di momen Syawal, dan berbulan-bulan setelahnya, kita menjelma menjadi manusia yang lebih baik karena berhasil menjalani proses “pelatihan” spiritual selama sebulan penuh di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Amin. Wallahu a’lam.
Baca juga: Jangan buang waktu terlalu banyak untuk tidur
Pengarang: Dhonni Dwi Prasetyo
Editor: Sutan
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.