
Aku dulunya adalah pohon yang paling banyak dibicarakan oleh angin.
Daunku rimbun, bergelantungan dimana-mana, bagaikan tirai mewah yang tak terbeli.
Akarku yang menjuntai menjulur ke bawah – tidak hanya mencengkeram tanah, tapi juga menandai wilayahku.
Burung berkicau di antara dahanku.
Anak-anak bermain dalam bayanganku.
Orang-orang tua itu duduk di bagasi saya sambil berkata:
“Pohon ini keramat. Keteduhannya bagaikan tempat pulang.”
Saya tidak bertambah besar.
Saya diam saja..dan ukurannya pun membesar dengan sendirinya. Mereka datang, mencium belalaiku, berdoa di bawahku, terkadang menggantungkan permohonan kecil di salah satu akar gantungku yang kuat.
Saya tidak pernah menolak.
Tentu saja tidak.
Karena aku mulai percaya dalam hatiku bahwa aku pantas untuk dipuja secara diam-diam.
Aku bukan sekedar pohon. Saya adalah simbol.
Saya bukan hanya root. Akulah bentengnya.
Aku bukan sekedar tempat berlindung. Sayalah alasan orang merasa terlindungi.
Hari-hariku dipenuhi dengan pujian dalam hati.
“Keramahannya luar biasa.”
“Akarnya ibarat doa yang sampai ke surga.”
“Jika ini ingin dibicarakan, mungkin kita semua akan mendengarkan.”
Saya tidak pernah berbicara.
Tapi dalam diamku, aku membual.
Lalu aku mulai mengabaikannya.
Saya tidak memperhatikan tanah yang mulai mengering.
Saya minum lebih banyak air, meskipun tanaman di sekitar saya layu.
Jamur kecil yang ingin tumbuh di tubuh saya saya hilangkan, karena saya takut kulit saya tidak lagi terlihat mulus.
Aku membiarkan asapnya masuk ke dalam pori-pori daunku, karena aku berkata, “Aku besar. Aku bisa mengatasinya.”
***
Saya tumbuh dewasa… tetapi saya tidak menyadari:
yang tumbuh bukan lagi aku, melainkan keangkuhanku.
dan suatu hari,
saya akan tahu
akar mentah itu,
itu bisa membusuk…
bahkan di pohon yang paling dihormati.
***
Hari itu angin sore berlalu tanpa pamit.
Biasanya ia merayap perlahan, menggelitik daun saya dengan lembut.
Terkadang ia bernyanyi, terkadang ia hanya duduk diam di kaki akarku.
Tapi hari itu dia baru saja lewat.
Tidak ada gemerisik.
Tidak ada salam.
Tidak ada sentuhan-sentuhan kecil yang biasanya membuat saya merasa penting.
“Mungkin dia lelah,” kataku pada diri sendiri.
Tapi keesokan harinya sama saja.
Dan keesokan harinya lagi.
Dan minggu depan,
Burung-burung mulai memetik pohon jambu kecil di pinggir pagar.
Semut pun tak mau lagi menjelajahi kulitku yang dulunya sesibuk pasar pagi.
Aku masih berdiri dengan anggun.
Masih tinggi. Masih kokoh.
Namun perlahan aku mulai mendengar… suara terjatuh.
Daunku berguguran satu demi satu, tanpa angin.
Bukan karena musim. Tapi karena…akar dalam diriku mulai membusuk.
Saya tahu itu.
Tapi aku diam.
karena saya percaya:
“Pohon sebesar saya tidak akan tumbang hanya karena beberapa luka kecil di tanah.”
Hingga suatu hari seorang anak kecil lewat dan berkata kepada ibunya:
“Bu, pohon beringin itu kelihatannya seram sekarang ya…
sebelumnya dia seperti pelindung, sekarang dia seperti… ingin menjatuhkan orang.”
Ibunya tidak menjawab.
Dia baru saja menyeret putranya pergi.
Dan untuk pertama kalinya,
Aku merasa bayanganku bukan lagi bayangan, melainkan gelap.
saya ingin mengatakan:
“Aku masih sama. Aku masih beringin tua!”
Tapi siapa yang mau mendengar pembelaan terhadap pohon yang tidak pernah berbicara ketika sedang dipuja?
Aku hanya bisa membuang lebih banyak daun,
harga diri yang lebih rendah,
dan membuang pemikiran bahwa aku akan abadi.
***
Saya mulai merasa kesepian.
Bukan karena dunia sedang menjauh.
Tapi karena aku… aku selalu berdiri terlalu tinggi untuk menyapa seseorang.
Dan saat aku mulai membusuk…
tidak ada yang menyadari bahwa saya harus ditanya:
“Apakah kamu baik-baik saja, pohon?”
Karena tidak ada yang menyangka pohon sebesar saya… bisa musnah.
***
Saya masih berdiri.
Masih sebatang pohon. Saya masih ingin. Masih terlihat kokoh jika dilihat dari kejauhan.
Tapi aku tahu: isi perutku kosong.
Kulitku mulai mengelupas.
Koperku mulai dipenuhi rayap—makhluk kecil yang dulunya takut padaku.
Saya menggertak mereka sekali hanya dengan getaran root.
Sekarang… mereka sedang menggali rumah di tubuh saya.
Dan saya tidak punya alasan lagi untuk melarang mereka tinggal.
Aku kehilangan semakku.
Bukan karena badai.
Bukan karena musim.
Namun karena ada sesuatu yang lebih sunyi dari itu semua: Tuhan diam-diam memetik daunku.
Satu per satu.
Itu tidak terdengar.
Saya tidak meninggalkan pesan.
Dia tidak memberikan peringatan.
Saya mencoba melawan.
Tapi aku hanyalah sebatang pohon.
Aku hanya bisa berdiri dan menyaksikan kehormatanku jatuh dalam bentuk daun-daun kering.
“Kenapa kamu tidak membentakku?”
“Kenapa kamu tidak menjatuhkanku juga?”
Saya ingin dihukum.
Karena itu lebih masuk akal.
Karena hukuman besar bisa dibanggakan sebagai bagian dari narasi besar.
Tapi Tuhan tidak memberikannya padaku.
Dia memberi saya sesuatu yang jauh lebih pedih:
Memudar perlahan.
Sebuah kelalaian.
Penganiayaan tanpa pengusiran.
Setiap pagi saya melihat makhluk baru bermain di bawah pohon yang berbeda.
Sebuah pohon kecil.
Yang menatapku dengan kagum.
Sekarang… Akulah yang mengawasi mereka dari jauh.
Dan hal yang paling menyakitkan adalah:
Tidak ada lagi yang menyebut namaku.
Tidak ada yang berkata, “Wow, itu mencurigakan.”
Tidak ada yang ingat bahwa saya adalah pusat taman ini.
Tahukah kamu apa yang lebih menyakitkan daripada kebencian?
Terlupakan.
Perlahan-lahan terhapus dari kenangan yang pernah memujimu.
Bukan menjadi musuh… hanya menjadi tidak relevan.
dan aku tahu…
Tuhan tidak pernah membenciku.
Itulah sebabnya dia mengizinkanku untuk meninggalkan harga diriku.
Saya telah tumbuh terlalu tinggi.
Terlalu yakin.
Terlalu besar untuk ditanyakan.
Terlalu hebat untuk dipikirkan.
Sekarang aku sedang belajar…
Ternyata nasib tidak selalu datang begitu saja.
Terkadang hal itu muncul dalam bentuk keheningan yang konsisten.
Berupa perhatian yang bertepuk sebelah tangan.
Berupa udara yang lewat tanpa menyapamu.
***
Bahkan tak seorang pun melihatku hari ini.
Tidak ada yang mampir.
Tak ada seorang pun yang menggantungkan harapan pada bagasiku.
Dan mungkin…
saat itulah aku bertemu untuk pertama kalinya
tanpa suara yang memujaku.
Untuk pertama kalinya… Aku adalah sebatang pohon.
Itu bukan pusat.
Bukan simbol.
Ini bukan tempat persembunyian.
Hanya… sebatang pohon yang hilang.
***
Saya tidak jatuh.
Meski aku kehilangan semua cabangku, aku berharap Tuhan mematahkan saja batangku.
Ayo selesaikan.
Sehingga saya tidak memiliki kenangan tentang siapa saya dulu.
Tapi tidak.
Tuhan membuatku berdiri dengan tubuh yang hampir kosong.
Bukan sebagai kutukan.
Tapi sebagai pelajaran saya harus melihat sendiri, tanpa ada yang menjadi saksi.
Setelah keheningan tak lagi menyakitkan, aku mulai merasakan satu hal:
menjadi mudah.
Saya lega karena tidak ada lagi yang memuji saya.
Lega karena tidak ada lagi yang perlu disembunyikan, tidak diketahui.
Aku lega karena akhirnya aku tahu,
Selama ini aku hidup sebagai bayang-bayang apa yang orang pikirkan tentangku.
Sekarang saya mulai tumbuh dari dalam.
Mereka tidak lagi menjulurkan dahan untuk meminta pujian.
Daun tidak lagi bersaing untuk menjadi yang paling berdaun.
Aku menanam akarku dalam-dalam, bukan untuk mendominasi bumi…
tapi untuk pertama kalinya: Saya mencoba mengenal negaranya.
Tanah tempat aku berdiri…
tanpa pernah bertanya:
“Apakah kamu lelah mendukungku?”
Dulu saya berpikir bahwa kehilangan adalah kehancuran.
Namun ternyata, kehilangan adalah cara Tuhan memisahkanku… dari diriku yang bukan diriku.
Dari pujian yang tidak tulus.
Dari gambar tersebut saya membangun seperti menara pasir.
Dari diri palsu yang hanya hidup ketika ada orang lain yang memperhatikan.
Suatu sore, seekor burung kecil hinggap di batang pohon saya yang penuh bekas luka.
Dia diam. Saya tidak takut. Saya tidak terkejut.
Dia hanya…beristirahat.
Dan saya tidak menyesalinya lagi.
Karena aku tahu, aku masih bisa berada di rumah—
bahkan dalam wujudku yang tidak sempurna.
***
sekarang saya tahu:
Saya tidak harus tinggi untuk menjadi berguna,
tidak harus subur untuk memberikan keteduhan,
tidak harus dimuliakan untuk dijadikan pelajaran.
Saya hanya harus jujur.
Bahwa aku dulunya sombong.
Tidak pernah sulit.
Selalu haus untuk terus mengagumi.
Dan sekarang saya telah belajar… menjadi orang biasa adalah bentuk kejujuran tertinggi.
Karena ketika pujian itu hilang,
dan aku masih memilih untuk berdiri –
itu artinya aku sangat ingin hidup…
tidak hanya mereka tampil sebagai simbol kehidupan.
penulis: Muhammad Caesar Rifyal Sidqi
Editor: Rara Zarary

website Pelajaran SD SMP SMA dan Kuliah Terlengkap
News
Berita
News Flash
Blog
Technology
Sports
Sport
Football
Tips
Finance
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Kekinian
News
Berita Terkini
Olahraga
Pasang Internet Myrepublic
Jasa Import China
Jasa Import Door to Door
Download Film
mata pelajaran
jadwal mata pelajaran mata pelajaran sma jurusan ipa mata pelajaran sd mata pelajaran dalam bahasa jepang mata pelajaran kurikulum merdeka mata pelajaran dalam bahasa inggris mata pelajaran sma jurusan ips mata pelajaran sma
bahasa inggris mata pelajaran
bu ani memberikan tes ujian akhir mata pelajaran ipa
tujuan pemberian mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan di sekolah adalah
dalam struktur kurikulum mata pelajaran mulok bersifat opsional. artinya mata pelajaran smp mata pelajaran ipa mata pelajaran bahasa indonesia mata pelajaran ips mata pelajaran bahasa inggris mata pelajaran sd kelas 1
data mengenai mata pelajaran favorit dikumpulkan melalui cara
soal semua mata pelajaran sd kelas 1 semester 2 mata pelajaran smk mata pelajaran kelas 1 sd mata pelajaran matematika mata pelajaran ujian sekolah sd 2022
bahasa arab mata pelajaran mata pelajaran jurusan ips mata pelajaran sd kelas 1 2021 mata pelajaran sbdp mata pelajaran kuliah mata pelajaran pkn
bahasa inggrisnya mata pelajaran mata pelajaran sma jurusan ipa kelas 10 mata pelajaran untuk span-ptkin mata pelajaran ppkn mata pelajaran ips sma mata pelajaran tik
nama nama mata pelajaran dalam bahasa inggris mata pelajaran pkn sd mata pelajaran mts mata pelajaran pjok
nama nama mata pelajaran dalam bahasa arab mata pelajaran bahasa inggrisnya mata pelajaran bahasa arab
seorang pengajar mata pelajaran akuntansi di sekolah berprofesi sebagai
nama mata pelajaran dalam bahasa jepang
hubungan bidang studi pendidikan kewarganegaraan dengan mata pelajaran lainnya
dalam struktur kurikulum mata pelajaran mulok bersifat opsional artinya mata pelajaran dalam bahasa arab
tujuan mata pelajaran seni rupa adalah agar siswa
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.