Pengarang:
Abu Aiman Ahmad bin Imam
Segala puji bagi Allah Yang Maha Agung lagi Maha Penyayang, yang telah menganugerahkan hamba-hamba-Nya disetiap masa segala sesuatu yang dapat mendekatkan mereka pada keridhaan-Nya, serta menjauhkan mereka dari murka dan neraka-Nya.
Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak mempunyai sekutu. Saya juga bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, orang pilihan dan kekasih-Nya, yang menyeru kepada agama yang benar dan memberi petunjuk ke jalan yang benar dengan izin Tuhannya.
Amma ba’du:
Di antara wujud rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya yang beriman adalah dengan meresepkan hal-hal yang baik untuk kehidupan dunia dan akhiratnya, memberinya anugerah dan keberkahan yang semakin bertambah dari waktu ke waktu, berupa rahmat yang dicurahkan dan kebaikan yang diberikan, sehingga yang benar-benar berbahagia adalah orang yang di dalamnya.
Tiada yang lebih mulia dan agung selain rahmat Allah dan rahmat Allah di hari-hari ini, yaitu sepuluh hari di bulan Zulhiya, inilah hari-hari terbaik di dunia, penghias segala bulan dan hari.
Inilah sepuluh hari yang keutamaannya tak lain karena mengandung salah satu hari terbaik, yakni hari Arefa. Cukuplah keutamaan puasa pada hari itu dapat membatalkan dua tahun, yaitu tahun sebelumnya dan tahun yang akan datang, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu alaihi wasallam dalam riwayat Imam Muslim. Ini benar-benar hari terbaik di dunia, seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam bukunya Asy-Shahih berdasarkan hadis Jabir Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Sallallahu Alayhi Wassalam bersabda:
Tuhan memberkati
“Hari terpenting adalah hari Arefa.” (HR. Ibnu Hibban).
Merupakan hari haji besar menurut banyak Salaf, termasuk Umar Radhiyallahu ‘anhu.
Posisi pesan; jika Allah memberi وسلم – قال: ((ما من يومٍ كافيرة من ان يَعتِقَ الله فيه عبيدًا من الناف من الناو من الناو ونه ليدنو ثم يُباهي بهم الملائكة, فيقول: ما عرادَ آنول?)).
Ini juga merupakan hari pengampunan, pengampunan dan pembebasan dari neraka. Allah memberkahi orang yang wukuf di arefa. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya Asy-Shahih berdasarkan riwayat Aisya Radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Sallallahu Alejhi Wassalam bersabda:
مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يَعْتِقَ اللّٰهُ فِيهأ فِيرهِ Akankah Tuhan memberikan Facebook ؤُلَاءِ?
“Tidak ada hari Allah yang lebih melepas hamba-hamba-Nya dari Neraka selain pada hari Arafah. Sesungguhnya Allah mendekatkan mereka dan memuliakan mereka di hadapan para malaikat sambil bersabda: ‘Apa yang mereka inginkan?’” (HR. Muslim).
Doa yang paling banyak dibacakan Nabi, semoga Tuhan memberkatinya dan memberinya kedamaian, pada hari Arefa – disebutkan dalam riwayat At-Tirmidzi -:
خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا dan pesan semoga Allah memberkati dia dan memberinya kedamaian
“Sholat yang paling utama adalah sholat di hari Arefa, dan yang paling utama yang saya dan para Rasul sebelum saya panjatkan adalah: Laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariat lahu, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘ala kulli syai-in tidak ada Tuhan selain Allah yang tiada sekutu dalam kerajaan dan bagi-Nya segala kemuliaan, dan Dia-lah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (HR. At-Tirmizi. Hadits Hasan dengan risalahnya).
Di antara keutamaan hari ini, disebutkan dalam riwayat Al-Bukhari atas wewenang Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبُّ إِل إِل إِلَى هَذِهِ الْأَيَّامِ – يَعْنِي: أَيَّامَ الْعَشْرِ – قَالُوْا: يَُرْسُر اللّٰهِ, وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ Pesan Tuhan: pesan kehendak Tuhan بِشَيْءٍ
“Tidak ada hari yang amal shalehnya lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: ‘Ya Rasulullah, bukankah jihad di jalan Allah?’ Beliau menjawab: ‘Tidak ada jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang berjihad dengan dirinya dan hartanya, dan tidak kembali darinya dengan membawa apa pun (syahid).’” (HR. Al-Bukhari).
Berbuat baik pada hari-hari ini lebih utama dan disukai Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta pahalanya lebih besar dibandingkan hari-hari lainnya dalam setahun. Meskipun ada amalan yang tidak begitu penting, namun pada hari-hari Mubarak ini amalan tersebut lebih utama dibandingkan amalan terpenting yang dilakukan pada hari-hari lainnya, bahkan Jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah Shallallahu Alayhi Wassalam tidak mengesampingkan amalan apa pun kecuali Jihad yang terbaik, karena beliau pernah ditanya, “Jihad apa yang paling utama?” dia menjawab:
مَنْ عَقَرَ جَوَادَهُ, وَأُهْرِيقَ دَمُهُ
“Orang yang berjihad kemudian mempunyai kuda (di medan perang), dan darahnya sendiri tertumpah (syahid).” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i. Hadits Hasan).
Sedangkan jenis Jihad lainnya dan amalan besar lainnya masih kurang penting dan tidak lebih diutamakan dibandingkan amalan sepuluh hari pertama Zulhiya. Di antara adat istiadat yang patut dilakukan seorang muslim agar mendekatkan diri kepada Allah adalah berpuasa, karena diriwayatkan dari beberapa istri Nabi Sallallahu alaihi wasallam bahwa beliau tidak meninggalkan puasa pada sembilan hari pertama bulan Zulhiya. (HR. Abu Dawud). Dan diantara sahabat yang menjalankan puasa pada hari ini adalah Abdullah bin Omar Radhiyallahu ‘anhuma.
Adapun hadits Aisyah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: “Aku belum pernah melihat Rasulullah SAW, puasa Zulhiya sepuluh hari,” dapat terbantahkan dengan beberapa jawaban. Pertama, hadis istri-istri Nabi yang lain yang menyebutkan bahwa Nabi berpuasa pada hari-hari tersebut lebih utama dibandingkan dengan hadis Aisyah yang mengingkari puasa, karena orang yang mewajibkannya lebih berilmu dibandingkan orang yang mengingkarinya. Kedua, mungkin yang dimaksud Aisya Radhiyallahu ‘anha adalah Nabi tidak berpuasa sepuluh hari penuh, sedangkan maksud orang yang memutuskan adalah Nabi berpuasa sebagian besar pada hari-hari itu.
Di antara amalan shaleh lainnya yang bisa dilakukan pada hari-hari tersebut adalah shalat magrib. Dahulu Said bin Jubair – yang merupakan perawi hadis dari Ibnu Abbas ini – ketika memasuki sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, ia shalat dengan sangat ikhlas, hingga ia hampir tidak mampu lagi melakukannya.
Di antara karya-karya lainnya ada banyak zikir. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
Dan
“Dan agar mereka menyebut nama Allah pada hari-hari tertentu.” (QS. Al-Hajj : 28).
Kebanyakan ulama menjelaskan yang dimaksud adalah sepuluh hari pertama bulan Zulhiya.
Pada umumnya orang yang berakal tidak boleh melewatkan hari-hari yang penuh berkah ini, memanfaatkan setiap momen untuk meraih keridhaan Allah melalui berbagai bentuk ibadah, seperti shalat, puasa, dzikir, silaturahmi, berbuat baik kepada sesama, memberi di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan membaca Al-Qur’an. Hendaknya ia menginvestasikan seluruh tenaganya pada hari-hari ini seperti yang ia lakukan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, atau bahkan lebih.
Sebab di bulan Ramadhan ia memerlukan usaha yang lebih, karena pada saat itu banyak faktor pendukung dalam beramal shaleh, seperti orang yang berpuasa dan shalat Tarawih, mencari malam Lailatul Qadr dan Iktikaaf. Sedangkan pada bulan Dzulhijjah hanya sedikit orang yang mengetahui urgensinya dan mengagungkannya dengan baik, sehingga orang yang ingin salat dengan khusyuk di dalamnya terlihat lebih asing dibandingkan orang lain, oleh karena itu hari-hari tersebut benar-benar merupakan hari-hari terbaik dalam setahun.
Aku memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar mengaruniakan taufiq kepadaku dan seluruh umat Islam untuk memanfaatkan hari-hari ini, tidak melarang kita pahalanya, dan memasukkan kita dan seluruh mukmin ke dalam golongan orang-orang yang telah Dia selamatkan dari Neraka.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima ibadah dari kita semua.
Sumber:
Artikel sumber PDF
🔍 Tulisan In Syaa Allah Doa Masuk Rumah Baru Menurut Islam, Pergi Makan Menurut Ustadz Erwanda, Hukum Wanita Meninggalkan Suami Dalam Islam, Batas Waktu Sholat Maghrib
Dikunjungi 29 kali, 10 kunjungan hari ini
Tampilan Postingan: 12


PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.