
Tebuireng.online– Majalah Tebuireng menyelenggarakan Majalah Internasional ke-2 bertajuk “Pertobatan Lingkungan: Upaya Beragama untuk Mengakhiri Bencana” yang diadakan di aula SMA Abdul Wahid Hasyim, Tebuireng. Kegiatan tersebut menampilkan Soegihart Aries Soebagiyo, Wakil Administrator, Kepala Sub Unit Pengelolaan Hutan Lumajang, sebagai salah satu pemateri dalam majalah Tebuireng edisi Pertobatan Lingkungan.
Baca juga: Konsultan Jepang menyoroti krisis lingkungan global dalam bedah majalah Tebuireng
Dalam kesempatan tersebut, Ovan menceritakan awal mula ketertarikannya terhadap dunia lingkungan hidup yang tumbuh sejak masa sekolahnya sebagai pecinta alam. Ia mengaku pecinta alam sejak bangku sekolah dan pernah menekuni pendakian gunung saat masih mahasiswa. Semangat inilah yang menjadi titik awal tumbuhnya rasa cinta yang mendalam terhadap ciptaan Tuhan.
“Dari situlah rasa cinta saya terhadap ciptaan Tuhan, dan dengan kekuatan-Nya saya bisa ikut serta dalam Perhutani, menangani masalah lingkungan hidup dan situs budaya,” ujarnya di hadapan siswa SMA AWH yang tergabung dalam organisasi Hipampala, Sabtu (5/9/2026).
Semangatnya inilah yang kemudian membawanya untuk ikut serta di Perhutani untuk menangani permasalahan lingkungan hidup. Menurutnya, seluruh makhluk hidup yang berada di kawasan hutan harus dilindungi dengan baik karena merupakan bagian dari ciptaan Tuhan.

Selain itu, ia menjelaskan pengelolaan hutan memiliki aturan ketat untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Seluruh makhluk hidup yang ada di hutan dilindungi, termasuk larangan menebang pohon dalam radius tertentu dari sumber air. Padahal, lanjutnya, proses penebangan kayu di Perhutani harus direncanakan dua tahun sebelumnya dan mendapat persetujuan kementerian. Dalam pengelolaan hutan jati pun, masyarakat diperbolehkan memanfaatkan hasil hutan asalkan tidak dieksploitasi secara berlebihan.
Baca juga: Santri terampil penuh atau semi lunak? Dibahas dalam Review Majalah Tebuireng di UPSI

Lebih lanjut, Aries menegaskan bahwa bumi menyediakan kebutuhan manusia untuk bertahan hidup. Namun tak sedikit pula yang justru merugikannya. Ia kemudian menyinggung kisah Sunan Bonang yang menangis saat melihat rumput dicabut dari tanah. Menurutnya, cerita ini mengandung pesan mendalam tentang pentingnya memperlakukan semua makhluk hidup dengan baik.
Baca juga: Jurnal internasional Tebuireng Go mengangkat isu integrasi agama dan sains di pesantren
“Dia menangis karena makhluk Tuhan yang disebut rumput tercabut dan tidak ada gunanya. Jadi perlakukan makhluk hidup dengan baik. Jangan rusak bumi,” ujarnya.
Ovan juga mengimbau masyarakat untuk aktif bekerja sama dalam perlindungan lingkungan, termasuk melaporkan tindakan perusakan alam. Menurutnya, kerusakan lingkungan, khususnya sumber air, akan berdampak besar bagi kehidupan di masa depan. Ia mendorong gerakan sederhana seperti menanam pohon di sekitar rumah dan sumber air, termasuk tanaman produktif seperti buah-buahan.
“Tanam pohon di sekitar sumber air. Buah-buahan juga bisa. Kalau lingkungan tercemar, terutama air, kita tidak tahu kehidupan kita ke depan akan seperti apa,” pesannya.
Pada forum yang dihadiri santri, guru, dan santri ini, Aries secara khusus mengimbau para kiai dan pendidik untuk terus menekankan pentingnya menjaga lingkungan. Bahkan ia berharap kedepannya akan ada kajian dan khutbah Jumat yang khusus membahas masalah lingkungan hidup.
Baca juga: Majalah Tebuireng tolak tudingan feodalisme: tak relevan dengan tradisi pesantren
“Saya berkomitmen untuk terus mengkampanyekan lingkungan hidup,” tegasnya.
Mengakhiri pemaparannya, Aries menyampaikan lima pesan utama. Pertama, tanam pohon sebanyak mungkin. Kedua, tidak merusak lingkungan. Ketiga, kampanye untuk meningkatkan kesadaran melalui tulisan. Keempat, menjaga niat dan pikiran baik.
Di akhir, beliau menyampaikan pesan singkat di forum tersebut “Wariskan mata air kepada anak cucu kita, jangan sampai meneteskan air mata”. dia menyimpulkan.
Reporter: Helfi Livia
Editor: Rara Zarary
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.