
Liburan telah usai dan para santri kembali ke pesantren masing-masing. Di momen pasca Idul Fitri ini, biasanya santri membawa semangat membara untuk lebih giat dan rajin belajar di pesantren. Halaman baru, semangat baru, begitu kata mereka. Namun bagi sebagian santri yang sejatinya berasal dari latar belakang keluarga kaya, ternyata ada hal baru lain yang kerap mereka bawa ke pesantren usai libur lebaran. Tidak lain hanyalah itu, yang baru adalah pakaian bermerek (mahal).
Ini merupakan fenomena menarik yang patut kita pertimbangkan. Yang menjadi persoalan bukan boleh atau tidaknya, melainkan pantas atau tidaknya seorang pelajar kaya memakai dan mengenakan pakaian bermerek ke dalam lingkungan pesantren yang sebenarnya dihuni oleh santri dengan latar belakang sosial ekonomi yang heterogen.
Menurut pendapat pribadinya, penulis kurang setuju dengan fenomena tersebut. Sebab, dalam perspektif Islam yang menjunjung tinggi prinsip keadilan, kemasyarakatan, dan empati sosial, fenomena pelajar kaya yang mengenakan dan mengenakan pakaian bermerek di lingkungan pesantren biasanya lebih tinggi mafsadatmanfaatnya, bukan manfaatnya.
Ya tak dapat dipungkiri, sebagai orang Jawa penulis memahami bahwa memang benar dalam tradisi budaya Jawa sendiri terdapat ungkapan. “Ajining Diri Gumanthung Lathi, Pakaian Ajining Raga Gumanthung” (Harga diri seseorang tergantung pada apa yang dikatakannya, sedangkan kehormatan jasmani/fisik tergantung pada penampilannya). Jadi, dapat dipahami bahwa mengenakan pakaian yang pantas adalah kunci menjaga harkat dan martabat seseorang.
Tidak hanya dalam tradisi budaya Jawa, bahkan dalam tradisi pesantren yang menganut acuan kitab agama dan ilmu akhlak, santri dihimbau untuk berpakaian rapi dan sopan untuk menghormati ilmu. Namun ada satu pertanyaan yang patut kita tanyakan bersama: apakah pakaian harus rapi, pantas dan bersih? bermerek yang harganya cukup untuk memberi makan pelajar dari kelompok ekonomi menengah ke bawah selama beberapa hari, minggu atau bahkan bulan?

Jawabannya tentu saja, berpakaian rapi, pantas, dan bersih bagi seorang pelajar bukan berarti harus memakai pakaian bermerek (mahal). Karena dia memakai pakaian bermerek Dalam lingkungan pesantren rentan membuat santri yang menggunakannya berniat untuk menggunakannya pembengkokan (menunjukkan) kepada teman-temannya yang lain, yang mungkin tidak mempunyai atau tidak mampu membeli pakaian tersebut.
Menjawab hal tersebut, jelas bahwa hal semacam ini sebenarnya sangat dilarang dan tidak sesuai dengan tradisi pesantren. Terutama budaya pembengkokan (menunjukkan) sendiri tidak diperbolehkan dalam Islam. Santri yang lebih matang pemahaman agamanya hendaknya tidak seperti itu, namun hendaknya menjadi pionir dan berkepribadian yang menerapkan kebiasaan-kebiasaan sederhana dalam berbusana.
Dampak negatif dari pembengkokan
Lalu, jika kita ingin melihat lebih dalam, kita akan mencari tahu secara holistik alasan mengapa pakaian lebih baik bermerek Hal ini tidak dimanfaatkan oleh seorang santri di lingkungan pesantren. Untuk menjelaskan alasannya, penulis sendiri sependapat dengan dawuh yang disampaikan oleh Ustadz Maimun Nafis, bahwa tren fashion bermerek di pesantren ini, lingkungan membawa tukang kayu (bahaya) bagi banyak pihak, tanpa kita sadari.
Dampaknya, setidaknya ada lima bahaya kecenderungan sebuah gaun bermerek di pesantren, yaitu:
Pertamamenciptakan kasta sosial dan kesenjangan yang mencolok di lingkungan pesantren.
Keduamembunuh rasa percaya diri (inferioritas) siswa yang berasal dari keluarga dengan latar belakang ekonomi pas-pasan.
Ketigamemupuk benih-benih kesombongan dan kebiasaan pamer pada diri siswa kaya.
Keempatmengubah iklim kompetisi keilmuan di pesantren menjadi kompetisi gengsi belaka.
Kelimameningkatkan risiko konflik dan menimbulkan pencurian (ghasab/pencurian) barang-barang mewah di pesantren.
Sejak dahulu kala, pesantren sebenarnya adalah ladang ilmu, bukan panggung pembengkokan. Kalau ada pihak yang “kesal” soal pakaian bermerek (mahal) demi “keindahan”, jelas ini adalah pendapat subjektif yang tidak bisa dibenarkan dalam konteks ini.
Sekali lagi kami tekankan bahwa pakaian yang rapi, pantas dan bersih itu wajib, tapi coba kita bertanya pada diri sendiri, sejak kapan jutaan brand memonopoli kecantikan? Bukankah pakaian yang enak dipandang dan nyaman dipakai membutuhkan merk yang mahal terlebih dahulu?
Jadi, sudah saatnya kita lebih berhati-hati dan peduli terhadap fenomena ini. Sebagai orang tua, kita harus membantu mendidik anak kita belajar di pesantren dengan nilai kesederhanaan. Daripada menjadi orang tua yang memanjakan anak, salah satu wujudnya adalah dengan membelikan pakaian branded untuk dikenakannya di lingkungan pesantren.
Ketika para orang tua ikut memberikan kemudahan ini demi anak-anaknya, hendaknya pihak pesantren juga harus mengimbanginya dengan ketegasan dan ketaatan pada aturan mengenai “larangan” ini (baca: anjuran untuk tidak menggunakan). Sementara itu, siswa juga harus demikian ‘ngestukaken dawuh’ alias sam’an wa tho’atan peraturan yang ditetapkan dan ditetapkan oleh pondok pesantren.
Dengan adanya sinergitas antara santri, orang tua dan pondok pesantrennya Insya Allah tren dalam pakaian bermerek di lingkungan pesantren akan berkurang dan berkurang. Bila hal ini terjadi maka para peserta akan teringat akan tujuan utama pesantren, yaitu agar lebih semangat belajar di pesantren dalam rangka silaturahmi, tanpa ada yang merasa unggul satu sama lain.
Terakhir, dengan iklim pesantren seperti ini, penulis berkeyakinan bahwa generasi ulama besar yang mendukung akhlak dan nilai-nilai Islam memang akan lahir dari lingkungan pesantren. Wallahu a’lam.
Baca juga: Fenomena Melenturkan: Antara Validasi Digital dan Kerapuhan Spiritualitas
Pengarang: Dhonni Dwi Prasetyo
Editor: Sutan
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.