
Pada tahun 1933 Pondok Pesantren Tebuireng. Usai salat Maghrib, kedua orang tua berebut memasangkan sandal di kaki masing-masing. Keduanya diam-diam berteriak satu sama lain, “Saya adalah murid guru. Saya adalah murid guru.”
Salah satunya adalah Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, ulama paling berpengaruh di Jawa pada masanya, pendiri Tebuireng, salah satu bapak Nahdlatul Ulama. Lainnya adalah Kiai Khosim, mantan guru muda Hasyim dari Pondok Pesantren Siwalan Panji, yang datang ke Tebuireng bukan untuk mengajar, melainkan belajar dari mantan muridnya.
Kiai Hasyim menolak peran tersebut. Jawabnya, “Tidak mungkinkah kamu salah paham atas ‘bimbingan’ dariku, muridku, murid masa lalumu, dan sekarang muridmu, ya, nyatanya aku akan tetap menjadi muridmu selamanya.”
Kiai Khosim, menurut catatan sejarah, sempat menitikkan air mata. Bukan karena sedih, tapi karena terharu memiliki mantan murid yang tetap rendah hati meski sudah terkenal dan harum.
Tujuh tahun di negeri rakyat
Untuk memahami darimana kedalaman ilmu Kiai Hasyim, kita harus mengikuti perjalanannya.

Ia mulai bersekolah di Pondok Pesantren Nggedang sejak kecil dan kemudian pindah ke Pondok Pesantren Keras di bawah bimbingan ayahnya. Pada usia 13 tahun, dia bisa mengajarkan kitab tersebut kepada siswa lain. Pada usia 15 tahun, dia merasa membutuhkan lebih. Lima tahun berjalan kaki dari satu pesantren ke pesantren lainnya; Wonokoyo, Probolinggo, Palangitan, bahkan Madura, mencari guru sejati untuk setiap cabang ilmu.
Ia akhirnya menemukan Kiai Yakub di Pondok Pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo. Tak hanya menuntut ilmu, ia juga dinikahkan dengan putri Kiai, dan tidak lama kemudian ia dibawa ke Mekkah.
Di Mekkah, dalam kurun waktu tujuh tahun (1892–1899), Kiai Hasyim kehilangan istri dan anaknya yang baru lahir dalam waktu singkat. Duka, secara historis, hampir tak tertahankan. Cara dia mengatasinya adalah dengan tidak pulang ke rumah. Dia mengitari Ka’bah, atau tenggelam dalam buku. Kiai Hasyim pun duduk menyendiri dari pagi hingga sore hari di Jabal Nur, di gua Hira, tempat Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertamanya, untuk membaca dan berdoa. Ia kembali ke Indonesia tujuh tahun kemudian dengan membawa sesuatu yang tak terukur, ilmu yang mendalam.
Pengetahuan yang mengubah orang, bukan sekedar memenuhi kepala mereka
Di pesantren tradisional ada prinsip yang kini mulai dilupakan: al-‘ilmu ikan-shuduur, la ikan-sutuhurilmu ada di dada, bukan di buku. Bukan berarti buku tidak penting. Namun pengetahuan yang sesungguhnya adalah pengetahuan yang masuk ke dalam diri seseorang dan mengubah cara berpikir, berperilaku, dan menjalani kehidupan.
KH. Hasyim Asy’ari adalah personifikasi prinsip ini. Ia telah mengembangkan keistimewaan dalam ilmu hadis dan setiap bulan Ramadhan menyelenggarakan pengajian khusus kitab Sahih Bukhari dan Sahih Muslim yang wajib diselesaikan dalam waktu satu bulan, yaitu lima hari sebelum Ramadhan hingga lima hari sebelum Syawal. Selama masa pengajian, Tebuireng bisa diisi hingga tiga ribu tamu dari seluruh nusantara.
Namun yang lebih mengesankan dari kapasitas intelektualnya adalah cara ia menyampaikannya. Suaranya lembut. Beliau adalah orang yang ramah dan sabar dalam bertanya. Contoh-contoh yang beliau berikan ketika memaknai hikmah, menurut catatan sejarah, selalu mengandung ajaran yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Dia tidak ingin mempermalukan para siswa. Lebih banyak pembelaan daripada kritik. Spiritualitas terwujud dalam cara Anda berbicara dengan orang lain.
Toleransi adalah buah dari kedalaman, bukan kelemahan
Salah satu kisah Kiai Hasyim yang paling jujur adalah kisahnya bersama menantunya, Kiai Haji Maksum Ali. Ada dua pendapat yang berbeda dalam hal ini: tentang hukum fotografi (Kiai Hasyim menganggap haram sebagai gambar; menantunya membolehkannya karena hanya bayangan, bukan gambar) dan tentang penentuan awal Ramadhan (Kiai Hasyim menggunakan ru’yat; menantunya menggunakan hisab, dan bahkan lebih dulu berpuasa dari ayahnya). Perbedaan antar mertua tidak pernah terselesaikan. Namun hubungan mereka tetap dekat.
Suatu hari ada yang mempertanyakan sikap Kiai Maksum yang “tidak mau menuruti” mertuanya. Kiai Hasyim menegurnya, “Setiap orang mempunyai pendapatnya masing-masing. Saya harap anda tidak ikut campur dalam masalah ini.”
Dalam budaya pesantren yang sangat menekankan ketaatan pada qiyai, kalimat ini bukanlah perkara sepele. Hal ini membutuhkan keyakinan yang mendalam, keyakinan bahwa kebenaran bukanlah milik orang yang paling berkuasa dan bahwa rasa hormat orang lain lebih penting daripada menjaga wibawa sendiri.
Spiritualitas yang tidak perlu mendapat sorotan
Di akhir hayatnya, Kiai Hasyim hanya mempunyai tiga buah sarung. Ketika pada tahun 1937 seorang pejabat Belanda datang membawa hiasan pemerintah kolonial yang terbuat dari perak dan emas, ia menolak. Alasannya adalah dia tidak bisa mengacaukan keikhlasan dirinya (“lillahi te’ala”) dengan niat duniawi.
Sore harinya, setelah salat Maghrib, Kiai Hasyim mengumpulkan murid-muridnya dan menceritakan kisah Nabi Muhammad SAW yang ditawari jabatan tinggi, harta melimpah dan wanita tercantik oleh para pemimpin Quraisy, namun beliau menolak semuanya. Nabi bersabda, “Demi Allah, meskipun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku dengan tujuan membuatku berhenti berperang, aku tidak akan melakukannya.”
Ceritanya tidak hanya indah. Kisah tersebut merupakan cerminan yang ditempelkan Kiai Hasyim pada wajah murid-muridnya, namun juga pada wajahnya sendiri.
Saat ini kita hidup di era di mana spiritualitas dapat dengan mudah dipamerkan: ceramah yang viral, kutipan bijak yang dibagikan ribuan kali, foto-foto di tempat suci. Tidak ada yang salah dengan semua itu, asalkan kita dengan jujur bertanya pada diri sendiri: apakah semua itu membentuk siapa diri kita, atau sekedar memoles penampilan kita?
Kiai Hasyim mengajarkan bahwa ukuran kedalaman bukanlah pada apa yang diperlihatkan. Takarannya adalah apa jadinya ketika tak ada seorang pun yang melihat, ketika kita masih rela berkata kepada orang yang pernah mengajari kita, meski di puncak ketenaran kita, “Aku tetaplah muridmu.
Baca juga: Hadits Arba’in KH. Hasyim Asy’ari: Menangis Agama yang Kehilangan Ahlinya (Bagian I)
Sumber bacaan:
Heru Sukadri, Kiai Haji Hasyim Asy’ari: Riwayat Hidup dan Pengabdiannya (Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985).
Penulis : Athi Suqya Rohmah
Editor: Sutan
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.