
Tebuireng.online- Di antara deru hafalan Al-Qur’an dan kesibukan mengkaji kitab kuning di bilik pesantren, Naila Syafani (17) merajut ketertarikan yang tidak biasa bagi sebagian orang: menaklukkan rumus-rumus rumit matematika.
Bagi santriwati asal Surabaya ini, deretan angka dan variabel bukan sekadar hitungan di atas kertas, melainkan seni melatih kesabaran, logika, dan ketelitian berpikir.
“Meskipun beberapa materi terasa sulit, saya tetap menikmati prosesnya. Begitu berhasil memecahkan soal yang rumit, ada rasa kepuasan tersendiri yang membuat penasaran untuk belajar lebih jauh,” tutur Naila.
Perjalanan Naila membuktikan bahwa tembok pesantren bukan pembatas untuk bersinar di kancah sains modern, bahkan hingga menembus panggung olimpiade internasional.
Ketertarikan Naila pada matematika mulai tumbuh sejak duduk di bangku kelas 8 SMP. Menariknya, pemahaman logikanya kian terasah justru dari materi-materi kepesantrenan yang ia pelajari setiap hari.

Menurut Naila, kajian gramatika Arab seperti nahwu, sharaf, kaidah fikih, hingga ilmu logika Islam (mantiq) melatihnya berpikir runtut dan sistematis.
“Kaidah fikih dan ilmu mantiq sangat membantu saya berpikir terstruktur. Kebiasaan memahami masalah lewat sebab-akibat di kitab kuning itu sangat sejalan ketika menyelesaikan persoalan matematika,” jelasnya.
Menyeimbangkan waktu mengaji dan berhitung disiasatinya dengan disiplin memanfaatkan waktu luang. Di tengah rutinitas pondok, ia konsisten mencicil latihan soal tanpa menunggu masa ujian tiba.
Jejak Panjang dari Lapangan hingga Panggung Dunia
Prestasi Naila tidak datang dalam semalam. Semasa SD, ia sama sekali tidak pernah mencicipi panggung kompetisi. Saat SMP, langkahnya di turnamen basket Jawa Timur terhenti di babak delapan besar, begitu pula saat mencoba olimpiade sains di tingkat lokal yang belum membuahkan piala.
Titik baliknya dimulai saat duduk di bangku SMA. Selain aktif di bidang olahraga dengan menyabet Juara 3 bulu tangkis tingkat Kabupaten Jombang selama dua tahun berturut-turut, prestasinya di jalur akademik melesat tajam.
Naila tercatat mengoleksi medali emas tingkat nasional pada ajang OSKN Matematika, medali perak bidang ekonomi, serta deretan medali perunggu di bidang fisika, sosiologi, dan PAI. Di tingkat global, ia meraih penghargaan Achiever pada Hong Kong International Mathematical Olympiad (HKIMO), hingga puncaknya sukses melaju ke putaran final Siam International Math and Science Olympiad (SIMSO) di Thailand.
Di balik capaian tersebut, Naila selalu mengiringi ikhtiarnya dengan tradisi spiritual pesantren.
“Sebelum lomba, saya selalu berdoa, mengingat perjuangan orang tua dan guru, serta bertawasul kepada Mbah Hasyim (KH Hasyim Asy’ari). Itu yang memberi rasa tenang saat duduk di ruang ujian,” ungkapnya.
Di mata teman-temannya di asrama, Naila bukan sosok kutu buku yang kaku. Ia dikenal sebagai pribadi ekstrover yang hangat, humoris, dan mudah bergaul dengan siapa saja.
“Naila itu punya energi yang besar, temannya di mana-mana. Dia juga istiqomah puasa Senin-Kamis dari SMP sampai sekarang,” ujar Natasya, sahabat dekat Naila, Jumat (14/8/2026). “Dia sangat mengayomi, sering menasihati dan mengingatkan kalau temannya salah.”
Hal senada diungkapkan Aliya, teman sekelasnya. “Anaknya kocak, baik, dan sangat peduli dengan lingkungan sekitarnya,” tuturnya.
Mimpi Mengembangkan Bisnis Keluarga
Menatap masa depan selepas lulus dari pesantren, Naila membidik Program Studi Manajemen Bisnis di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (UNAIR). Ia bertekad memadukan ilmu manajemen modern dan nilai integritas pesantren untuk mengembangkan usaha keluarga.
Kepada sesama santri yang kerap merasa minder mempelajari eksakta, Naila menitipkan pesan sederhana namun mendalam.
“Jangan menganggap diri tidak bisa hanya karena matematika itu sulit. Santri mampu mendalami agama sekaligus bersaing di ilmu pengetahuan modern. Kuncinya ada pada proses, kesabaran, dan keberanian untuk terus mencoba,” pungkas Naila.
Pewarta: Aulia
Editor: Sutan
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.