
Tebuireng.online- Mudir II Pesantren Tebuireng Muhammad Hasyim Asy’ari menegaskan bahwa refleksi kemerdekaan tidak sekadar mengingat peristiwa masa lalu, melainkan membaca kembali sejarah untuk diambil hikmahnya dan diterapkan dalam kehidupan santri masa kini.
Hal itu disampaikan figur yang akrab disapa Gus Hasyim tersebut saat memberikan ceramah (mauizah hasanah) dalam Refleksi Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Masjid Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Minggu (16/8/2026).
Gus Hasyim menjelaskan, kemerdekaan tidak berhenti pada terbebasnya bangsa dari penjajahan fisik semata. Mengutip pemikiran ulama asal Tunisia, Ibnu Asyur, ia memaparkan empat bentuk kemerdekaan yang perlu diresapi oleh para santri.
Dimensi pertama adalah kebebasan berkeyakinan (hurriyyatul i‘tiqad). Menurut dia, kemerdekaan harus membawa seseorang semakin kuat dalam mentauhidkan Allah SWT dan tidak menjadikan kekuasaan, harta, maupun kepentingan duniawi sebagai berhala baru.
Selanjutnya, dimensi kedua adalah kebebasan menuntut ilmu (hurriyyatul ‘ilmi wat-ta‘allum). Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tersebut menekankan bahwa santri yang malas belajar belum memaknai kemerdekaan secara hakiki. Ia mencontohkan keteladanan Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari yang tetap produktif menghasilkan pemikiran dan risalah karya meski di tengah situasi penjajahan.

Dimensi ketiga berkaitan dengan kebebasan berpendapat (hurriyyatul aqwal). Gus Hasyim mengingatkan bahwa kebebasan berbicara harus disertai etika serta tanggung jawab. Setiap perkataan harus dipikirkan dan disaring menggunakan ilmu.
Adapun dimensi keempat adalah kebebasan berkarya (hurriyyatul ‘amal). Kemerdekaan memberikan ruang bagi setiap orang untuk menjalankan profesi dan berkreasi secara positif. Bagi santri, hal ini diwujudkan melalui karya sesuai bidang masing-masing tanpa mengikis identitas kesantrian.
Gus Hasyim berharap empat indikator kemerdekaan tersebut tidak berhenti sebagai agenda seremonial semata, tetapi benar-benar dihidupkan dalam keseharian santri.
“Jika empat hal ini kita hadirkan dalam diri, saya yakin saat menjemput Indonesia Emas nanti, para santri akan menjadi sosok yang hebat sesuai dengan bidangnya masing-masing,” tuturnya.
Pewarta: Bakhit
Editor: Sutan
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.