
Penulis: Badrul Munir*
Menyekolahkan anak di pondok pesantren merupakan sarana metode terbaik untuk pembentukan karakter islami karena bukan hanya mendapat pendidikan yang bersifat kognisi (kecerdasan) namun lebih dari itu mereka langsung mendapat pelatihan karakter islami secara langsung oleh kyai dan pengasuh pondok (hand ons) dalam kehidupan sehari hari selama di pesantren.
Awal masuk sekolah merupakan masa istimewa bagi orang tua, terutama orang tua yang melepas anaknya (santri) akan masuk ke pondok pesantren, seribu satu macam perasaan orang tua saat melepas anaknya mulai dari rasa haru, bangga, kangen, takut anaknya ada sesuatu negatif di pesantren dan perasaan lainnya, perasaan ini terutama bagi orang tua yang melepas anaknya usia belia seperti saat masuk tingkat sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) setelah mereka lulus sekolah dasar (SD), padahal menurut neurosains menjadi santri justru sangat positif bagi tumbuh kembang otak anak.
Baca Juga: Semangat Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari Ketika Nyantri
Menurut ilmu saraf dan perilaku (ilmu neurobehaviour) keberhasilan hidup seseorang sangat ditentukan pembentukan karakter saat tumbuh kembang mereka dan proses pembentukan karakter sangat ditentukan oleh paparan yang diterima oleh otak anak. Sel otak anak akan tumbuh dan berkembang dengan proses neurogenesis dan sinaptogenesis, neurogenesis adalah proses tambah dan ukuran dan jumkah sel otak sedangkan synaptogenesis adalah proses bertambahnya jonjot saraf antar sel otak kedua proses ini bergantung stimulus/paparan yang diterima anak. Bila baik paparannya maka baik juga proses neurogenesis_sinaptogenesisnya dan hasil pembentukan karakternya. Begitu juga sebaliknya bila paparan selama anak dan remaja negatif maka proses neurogenesis dan sinaptogenesis
Metode pendidikan terbaik saat sekolah dasar dan menengah adalah dengan memberikan praktik langsung dalam kehidupan sehari-hari (hand on) Karena Kebiasaan positif bila diulang terus-menerus akan menjadi dasar utama proses berpikir, sikap dan perilaku mereka di masa yang akan datang. Menurut penulis menyekolahkan anak di pondok pesantren merupakan sarana metode terbaik untuk pembentukan karakter islami karena bukan hanya mendapat pendidikan yang bersifat kognisi (kecerdasan) namun lebih dari itu mereka langsung mendapat pelatihan karakter islami secara langsung oleh kyai dan pengasuh pondok (hand ons) dalam kehidupan sehari hari selama di pesantren.

Baca Juga: Seberapa Penting Fungsi Otak untuk Manusia? Ini Jawabannya
Mengikuti aktifitas kyai dan pengasuh pondok dengan melihat sendiri perilaku mereka akan menjadi dasar utama dari memori permanen di otak anak yang bernama hipokampus dan amigdala serta sistem limbik, dari bagian otak tersebut anak akan teringat terus kebiasaan baik selama di pesantren dan menjadi modal dasar perilaku mereka saat lulus dari pondok untuk melanjutkan pendidikan atau berkarier di masa berikutnya.
Pola hidup di pondok yang menitikberatkan pembiasaan kebaikan seperti: kemandirian, kejujuran, empati-toleransi, kebersamaan, ketahanan hidup dan lainnya ditambah pendidikan kognisi ilmu agama seperti ilmu fiqih, tafsir, hadist dan kitab kuning lainnya mejadikan bekal hidup sanbat penting sehingga anak kita berpotensi menjadi manusia yang berkarakter dan berakhlak islami.
Metode pembelajaran di pondok ini tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan lain di luar pondok yang pada umumnya hanya pengembangan kognisi saja dan kurang menekankan pendidikan etika sehingga tidak optimal membentuk karakter secara sempurna, terutama karakter islami baik secara religi maupun secara umum, di pondok pesantren karakter islami akan terbiasa terbentuk dari aktifitas keseharian dimana semua panca indra santri akan menjadi paparan positif untuk tumbuh kembang mereka
Sebagai contoh setiap hari santri harus bangun pagi untuk sholat malam dan subuh akan menjadikan otak pusat tidur membiat sirkuit bangun pagi sehingga mereka terbiasa bangun pagi mana pada Sebagian orang bangun bagi adalah senuah kesulitan yang luar biasa. Contoh lain para santri melihat akhlak dan kebiasaan para kiai dan pengasuh pesantren maka dia akan meniru secara langsung ahlak itu dan terbawa sampai tua kebiasan baik di pondok pesantren dan bila itu dibiasakan dalam beberapa tahun maka otak akan mengoptimalkan proses neurogenesis dan synaptogenesis sholeh secara optimal.
Baca Juga: Model Pendidikan Pesantren Menjawab Tantangan Perubahan
Metode pembejaran pondok pesantren ini akan mengoptimalkan proses neurogenesis dan sinaptogenesis otak di pusat perilaku mereka yakni di lobus frontalis, amigdala dan hipokampus yang sangat penting dalam proses kognisi, skill dan emosi terutama religi mereka sebagai bekal.hidup di masa yang akan datang.
Sebagai orang tua kita wajib memberikan pendidikan dan lingkungan terbaik untuk anak kita dan belajar di pondok pesantren adalah salah satu metode terbaik untuk pembentukan karakter anak kita. Tugas kita selanjutnya terus memantau aktifitas belajar mereka di pondok dengan berkomunikasi ke pengasuhnya dan memasrahkan kepada Allah SWT agar durriyah kita menjadi generasi yang sholeh sholehah.
*Wali santri dan dosen-dokter neurologi FK Univ Brawijaya Malang.
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.